Apakah Sudah Jatuh Talak?

Fiqih Muamalah, 29 Mei 2020

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum ustadz, izin bertanya. Bagaimana pandangan para ulama mazhab dalam masalah ini:

1. Istri minta bercerai sama suami karena sebab suatu hal. Suami tidak mau menceraikan, tapi karena istri menangis terus dan memaksa akhirnya suami terpaksa mengiyakan. Lalu mereka mendatangi kerabat terdekat untuk bilang kalau mau bercerai, tapi setelah dinasehati oleh kerabat akhirnya tidak jadi bercerai dan masing2 sepakat untuk memperbaiki diri. Pertanyaannya: Apakah ini sudah jatuh talak?

2. Sepasang suami istri ada kesalahpahaman yang sangat fatal. Lalu sang suami berkata: "saya tidak mau terus menerus menyakiti kamu. Saya tidak sebaik kamu. Kamu berhak mendapatkan suami yang lebih baik dari saya. Sudah sekarang kita pisah saja."

Sang istri lalu berkata: "Istighfar, Pak. Ingat Allah. Ingat sama anak-anak. Mereka masih butuh kita. Nggak boleh ngomong begitu. Kita bisa perbaiki masalah kita sama-sama. Kita perbaiki rumah tangga kita sama-sama. Semua pasti akan baik-baik saja."

Setelah itu sang suami langsung istighfar berkali-kali. Dia sadar dengan perkataannya tadi dan dia menyesalinya. Mereka pun lalu berbaikan. Pertanyaannya: Apakah seperti itu sudah jatuh talak?



-- SSyafana Rifa (Depok)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

1). Respon suami dengan menyetujui permintaan cerai istrinya, baik dilakukan dengan suka rela atau terpaksa, maka disebut dengan istilah jatuh hukum KHULU' (perceraian atas inisiatif atau atas permintaan istri), artinya telah jatuh cerai tetapi tidak dihitung bilangannya, Dan secara fikih telah dianggap jatuh talak bain kecil dengan masa iddah satu kali haidh, sehingga kalau suami brrkeinginan untuk meruju' istrinya dia harus menunggu dulu  berlalunya satu kali haidh, baru kemudian boleh ruju' dengan akad ulang kembali

2). Talak atau Cerai, apabila dilihat dari aspek lafal yang dipakai ada dua macam :

a. Sharih atau jelas, seperti Cerai atau Talak, Apabila seorang suami mengatakan kepada istrinya : anda saya talak atau anda saya cerai, maka secara otomatis dengan ucapan tersebut jatuh hukum talak

b. Kinayah atau sindiran, seperti : terserah kamu, kembali saja ke ortumu atau yang sejenisnya dengan kalimat kalimat yang masih berpotensi banyak penafsiran. Dengan kaliamat yang demikian ini, apabila diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya, maka jatuh dan tidaknya hukum cerai ditentukan oleh niat suami saat dia mengucapkannya

Dan oleh karena kalimat yang dipakai oleh suami sebagaimana yang anda tuliskan, tidak dengan kalimat yang sharih tetapi kalimat kinayah, maka jatuh atau tidaknya hukum cerai akan ditentukan dengan niat suami tersebut saat dia mengucapkannya, kalau disertai niat talak, maka jatuh hukum talak, dan sebaliknya bila tidak disertai niat talak, maka tidak jatuh hukum talak

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu ;alaikum wrwb.

 



-- Agung Cahyadi, MA