Hukum Memakan Ular, Cacing, Katak, Dsb

Makanan & Sembelihan, 20 Februari 2008

Pertanyaan:

Saya masih bingung apakah hewan-hewan seperti ular, cacing, katak, tokek, buaya, dan nyambik boleh dimakan? Sebagian orang bahkan mengatakan bahwa hewan-hewan tersebut berkhasiat untuk menyehatkan dan menguatkan tubuh serta bisa mengobati penyakit-penyakit tertentu. Mohon kiranya Ustadz bisa memberikan penjelasan sehingga saya tidak lagi bingung tentang masalah ini. Terima kasih.



-- Toha Raihan (Sidoarjo)

Jawaban:

Dalam kajian fiqh Islam, makanan termasuk dalam kategori fiqih non ibadah yang hukum asalnya adalah boleh dan halal, hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat yang sangat jelas, diantaranya firman Allah:

"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu." (QS. 2 : 29)

"Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin." (QS. 31 : 20)

Allah telah menjelaskan secara tegas semua yang halal dan semua yang haram dalam firman-Nya: "(Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk." (QS. 7 : 157)

Berdasarkan ayat-ayat diatas para ulama menyimpulkan kaidah fiqh, bahwa prinsip dasar makanan adalah halal kecuali bila ada dalil yang mengharamkannya. "Hukum asal segala sesuatu adalah boleh (halal) kecuali ada dalil yang mengharamkannya."

Adapun faktor-faktor yang dapat mengharamkan makanan antara lain sebagai berikut.

Pertama, apabila dipastikan dapat menimbulkan dharar/bahaya, berdasarkan firman Allah: "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. 2 : 195)

Kedua, apabila memabukkan atau menghilangkan ingatan, berdasarkan firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panahadalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. 5 : 90)

Ketiga, apabila najis atau terkontaminasi najis, berdasarkan firman Allah: "Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah." (QS. 2 : 173)

Keempat, binatang buas yang bertaring dan burung yang menangkap dengan cakar, berdasarkan sabda Rasulullah saw: "Sesunguhnya Allah telah mengharamkan setiap bnatang buas yang bertaring dan burung yang menangkap dengan cakar." (HR. Muslim)

Berdasarkan nash-nash dan kaidah diatas, maka ular, katak beracun dan buaya  termasuk binatang yang diharamkan, karena ular dan katak beracun itu membahayakan dan buaya termasuk binatang buas yang bertaring .

Sedangkan katak yang tidak beracun dan cacing selama aman dari racun ataupun bakteri yang membahayakan, maka kembali pada hukum asalnya yaitu halal.

Adapun tokek dan nyambik - wallahu a'lam – untuk menentukan hukumnya diperlukan dahulu kepastian, apakah ia termasuk binatang buas yang bertaring atau ia berbisa sehingga membahayakan.

Perihal bahwa binatang-binatang tersebut dikatakan dapat menyembuhkan penyakit, maka kita kembali pada kaidah dasar pengobatan dalam Islam "bahwa Allah tidak memperkenankan obat untuk penyakit kita dari sesuatu yang diharamkan”.  Abdullah bin Mas’ud berkata, "Sesungguhnya Allah tidak membolehkan terapi bagi kalian dengan sesuatu yang diharamkan." (HR. Bukhori)



-- Agung Cahyadi, MA