Pernikahan Apa

Pernikahan & Keluarga, 19 April 2021

Pertanyaan:

Assalamuallaikum wr wb, saya seorang wanita usia 18 thn dan merupakan seorang korban dari atasan saat kerja yang mengharuskan menikah dan meminta dispensasi kawin dari pengadilan agama, saya menikah dengan *orang lain* yang jadi rekan kerja juga saat itu dan memang menyukai saya dan beliau menikahi saya secara sah bukan dengan orang yang bersangkutan karena yang bersangkutan hanya mau menikahi secara siri dan sudah mempunyai istri juga, sebelum menikah orang yang mau menikahi saya ditanya oleh orang tua saya apakah dia nanti menyesal apa tidak di kemudian hari beliau bilang jika tidak akan menyesal saya pun juga sudah bilang untuk mencari perempuan lain saja beliau bilang tidak mau saat sudah menikah beliau nganggur terkadang ada yang butuh jasanya dan alhamdulillah dapet rejeki walaupun hanya sedikit selama itu pun saya tidak berani untuk meminta nafkah atas rejeki suami saya karena saya merasa sungkan dan berpikir punya hutang budi pada saat itulah suami saya kadang mengungkit masalah kehamilan saya ini yang kadang dia bilang 'saya kan gak ikut bikin' dan kadang 'mana ada laki" selain saya yang mau ?' 2x seperti itu bahkan saya pernah cek HP suami saya dan beliau ada chatingan dengan teman perempuan sekomunitasnya dan yang genit itu suami saya si perempuannya hanya biasa walaupun chatnya tidak sering apakah saya juga berhak untuk cemburu? Saya tidak berani membahas dengan suami karna saya takut jika beliau marah sayapun menahan sampai sekarang, suami pun tidak betah dirumah orangtua saya dia sering pergi main malam dan pulang kerumah orangtuanya padahal saya hamil tua dan mau melahirkan, saya ingin bertanya apakah pernikahan saya ini sebenarnya sah? Dan saya harus seperti apa dengan sikap suami saya? Mohon dijelaskan terimakasih 



-- Fataya (Madiun)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Kalau perzinaan yang anda lakukan dengan atasan anda dahulu hingga menyebabkan anda hamil, maka pernikahan yang anda lakukan dengan suami anda sekarang adalah pernikahan yang tidak sah secara agama karena anda menikah dalam keadaan hamil, dan kalau anda tetap teruskan, maka hubungan badan anda dengan laki laki yang anda anggap sebagai suami anda sekarang adalah hubungan zina, yang karenanya anda harus segera berpisah dengannya.

Tetapi kalau saat anda menikah dengan laki laki yang sekarang jadi suami anda, dalam keadaan anda tidak hamil, maka nikah anda in syaa Allah sah, masalahnya kemudian adalah bagaimana anda harus mengurai problem rumah tangga anda.

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah anda dengan suami tersebut berlarut larut tidak ada ujungnya, Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami, dan saya melihat sepertinya sangat diperlukan hadirnya fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum pernikahan dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi sekaligus menasehati kalian berdua dan lebih khusus kepada suami yang selama ini abai terhadap perannya sebagai seorang suami, hal tersebut perlu segera anda lakukan dalam upaya bersama mencari solusi terbaik

Disamping upaya tersebut, ada hal mesti anda lakukan yaitu mendekat kepada Allah dengan optimal, memohon agar Allah berkenan membuka hati suami anda secara khusus untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga anda

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb



-- Agung Cahyadi, MA