Tidak Adanya Kejujuran

Lain-lain, 27 April 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum, saya renisha umur 36tahun, saya sudah menjalani pernikahan selama 10tahun memiliki 2 anak, yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukumnya jika nafkah yg diberikan suami berasal dari cara yg haram? Tetapi suami tidak pernah jujur menyampaikan apa adanya darimana sumber nafkah tersebut. Kedua, bagaimana jika suami sebagai pemimpin keluarga dengan sengaja meninggalkan sholat 5waktu? Ketiga, suami sifatnya sangat temperamen, sering kali hal kecil membuat emosi, bagaimana solusinya? 

 

 

 



-- Renisha Adyuta (Pati)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Alhamdulillah Allah anugerahkan kepada anda suami dan anak, semoga rasa syukur itu menambah nikmat yang telah Allah berikan, sehingga keluarga lebih baik kondisinya dari yang sebelumnya hingga mendekati sempurna. Aamiin ya rabbal aalamiin.

Beberapa hal negative yang dilakukan oleh suami anda kan berkaibat pada keburukan keluarga di dunia dan akhirat kecuali ada  perbaikan terus menerus. Untuk memperbaiki beberapa kesalahan berupa memberi nafkah keluarga dari penghasilan yang haram, meninggalkan shalat lima waktu dan sifatnya yang temperamen, ada beberapa yang bisa anda lakukan:

  1. Anda bisa menyampaikan ke suami anda bahwa yang dia lakukan itu adalah salah menurut agama yang berdampak kepada keburukan keluarga di dunia dan akhirat. Jika anda bisa menyampaikan hal itu secara langsung, maka itu lebh baik, tapi jika anda tidak mampu melakukannya anda bisa meminta tolong orang lain yang anda pandang mampu menyampaikan nasihat kepadanya dan ditaati oleh suami anda.
  2. Dari sekian kesalahan pilihlah untuk melakukan perubahan dimulai dari yang paling mudah dan punya dampak perbaikan kepada kesalahan yang lain. Mulailah dari memperbaiki shalatnya terlebih dahulu,karena shalat merupakam tiang agama, siapa yang menegakkannya maka syariat agama yang lain akan tegak. Rasulullah saw bersabda:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah )

 

Shalat juga akan membantu pelakunya dari perbuatan dosa, keji dan munkar. Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45)

Jika shalatnya baik maka masalah lain bisa diperbaiki dengan mudah.

  1. Sambil mengatkan akan kewajibannya melakukan shalat wajib, bisa diingatkan juga akan dampak buruk memberi nafkah dari hasil yang di haramkan Allah swt. Sampaikan kepadanya bahwa anda bersabar dengan nafkah halal darinya. Diantara bahaya memberi nafkah yang haram adalah:
    1. Menyebabkan pemakannya masuk neraka. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al Hakim )

  1. Pelakunya tidak diterima doanya. Rasulullah bersabda:

« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

Adapun sikapnya yang kasar itu bisa dilembutkan dengan sikap lembut, yaitu cinta. Bukan cinta nafsu tapi cinta yang didasari kasih sayang yang mendapatkan sentuhan ilahi. Untuk menghadirkan rasa cinta seperti itu adalah dengan memberi hadiah. Memberi hadiah menghadirkan rasa cinta. Rasulullah saw bersabda:

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)

Berikan hadiah kepada suami anda sebuah hadiah yang menarik, tidak harus mahal, semoga hadiah itu akan melembutkan hatiany dan menumbuhkan rasa kasih sayang.

Demikian yang bisa disampaikan,semoga bermanfaat. (as)



-- Amin Syukroni, Lc