Istri Cuek Pada Suami

Lain-lain, 2 Mei 2021

Pertanyaan:

Saya 41 th n istri 29 th. Sdh Menikah 6 th yg lalu punya anak 1 usia 3 th. Permaslahnya saya melakuak kesalahan yh dianggap istri saya banyak, kirang perhatian pada istri, nafkah lahir tidak pernah, tidak sholat n tidak  isa jadi imam dlm rumah tngga. Pokoknya selalu menuntut yh sempurna. Pololkoknya yg diimgat hnya keburukan saya. Memang ada bbrp kriteria diatas yg benar. Tpi pd kenyataanya saya sdah berusaha semksimal mungkin. Tpi istri saya tetap menganggap saya suami yg lalai. Hingga bbrp minggu yg lalu kami bertengkar dan anak melhat pertnegkaran hingga anak menangis. Trus istrisaya begitu bencinya sama saya sampai saya diusir dari rumahnya .kebetulan istri tinggal sama ortunya. Saya menyadari keslahan  saya, dan meminta maaf , serta saya ingin berubah .dan mengakui kesalahan saya. tetapi istri saya bilang saya sudah tidak mau lagi dengan saya. Trus saya ikuti perkataaan saya, hingga saya akhirnya tidur dirumah saya sendiri. Klo pagi sampai sore saya kerumah istri untuk momong anak saya. Otomatis ketemu dengan istri saya. Sikapnya selalu dingin alias cuek, menampakan sikap kebencian, saya berusah menyapa n ber komunikasi tpi hasilnya tetP dingin, kaya orang lain. Sudah 1 minggu saya berusaha meyakinkan istri untuk berubAh, tpi tetP istri tidak peduli. Bagamana saya harus bersikap?swbwgitu ya benci dg saya sampai no hp saya dihapus dari kontak. Tpi saya tetep menghubungi via wa walau tidak dibls. setiap ingat n diperlakukan dingin, hati saya seakan nelangsa, tpi saya tahan unuk ttp bersabar. Saya tdk ingin prnikhan saya gagal dan sya ingin mempertahankan ya. Klo kasus spt ini istri cuek terhadap saya 1 minggu lebih bhakan tidak menutup kemungkin lebih dari itu. Bmna saya harus bersikap thd istri saya? Trim atas solusinya



-- Eko (Blitar)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Setiap pasangan menginginkan pasangan yang baik, seorang istri menginginkan suami yang baik, demikian pula suami menginginkan istri yang baik,bahkan kalau bisa ingin mendapatkan yang sempurna. Kesempurnaan tidak mungkin diperoleh. Maka yang harus diupayakan adalah menjadi pasangan yang baik. Kriteria pasangan ideal dapat ditinjau dari empat hal:

  1. Harta
  2. Keturunan
  3. Paras
  4. Agama .

Rasulullah bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.(HR. Bukhari dan Muslim)

Apakah empat kriteria itu hanya diinginkan oleh laki-laki? Tentu tidak, perempuan juga mengharapkan mendapatkan pasangan dengan kreteria seperti diatas.

Menyikapi apa yang Anda tanyakan maka kami bisa memberikan saran seperti berikut:

  1. Sadarilah bahwa harapan istri Anda agar anda lebih baik adalah suatu kewajaran. Istri Anda menginginkan Anda lebih perhatian kepadanya, memberi nafkah lahir, sholat lima waktu, dan bisa menjadi imam dalam rumah tangga. Harapan standard semua istri.
  2. Yang dituntut oleh istri Anda dari Anda adalah Anda mau melaksanakan tugas Anda sebagai suami, yang merupakan tugas utama seorang suami, yaitu memberi nafkah dan menjaga keluarga dari api neraka. Jika Anda tidak memberinya nafkah, jika Anda tidak bisa menjaga diri Anda dan keluarga Anda dari api neraka, lalu apa yang didapatkan istri Anda dari Anda dengan pernikahan ini. Maka wajar kalau dia cuek terhadap Anda karena Anda dianggap tidak “berguna” bagi dirinya dan anaknya.
  3. Jika Anda tetap ingin mempertahankan pernikahan Anda,maka buktikan bahwa Anda bisa memenuhi keinginan dia, tidak hanya sekedar berjanji.
  4. Ditengah Anda terusir dari rumah, jangan menemui istri Anda jika Anda belum berubah. Jika Anda menemuinya sementara Anda belum berubah, maka hanya akan membuat dia semakin cuek dan Anda akan sakit hati. Mulailah Anda bekerja dan berpenghasilan dan mulailah Anda shalat lima waktu, jika dua hal itu telah Anda lakukan maka Anda akan bisa tegak menjadi imam atau pemimpin keluarga. Nafkah yang Anda berikan membuat Anda bisa tegak berdiri dihadapannya sebagai suami dan dengan shalat lima waktu yang Anda jalankan dengan baik Anda layak menjadi imam atau pemimpin keluarga yang siap menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka.
  5. jika anda tidak siap memberinya nafkah dan tidak bisa menjadi imam rumah tangga maka sebaiknya Anda menceraikannya saja ,agar Anda tidak mendholiminya dengan menggantung statusnya.

Demikian yang bisa disampaikan semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc