Berpisah Atau Bertahan

Lain-lain, 8 Mei 2021

Pertanyaan:

Saya Nur 31thn memiliki 2 anak perempuan dan laki-laki berusia 9thn dan 2 bln. Saya berumahtangga sudah 11thn dan sekarang saya sudah berpisah selama 3bln dengan suami karena suami saya selingkuh maaf sampai berzina, dia selingkuh dengan teman kerjanya. Sebenarnya dari awal suami sudah mengakui, tetapi blm bisa meninggalkan selingkuhannya & meminta saya untuk bersabar dia akan menceritakan semuanya saat saya setelah melahirkan. Tetapi setelah melahirkan suami tak kunjung menceritakan dan memberi janji lagi setelah saya selesai nifas, karna emosi saya marah karna hanya diberi janji-janji oleh suami. Setelah pertengkaran terjadi suami semakin menaruk dendam dengan saya. Saat Saya menagih janji suami untuk menceritakan semuanya dan suami menyampaikan bahwa dia sdh menjatuhkan talak saat terjadi pertengkaran dan posisi saya masih masa nifas dan berkata dia sdh tidak bisa hidup dengan saya, sudah hilang rasa kepada saya, dan saya disuruh melangkah sesuai hati kecil dan kemauan saya. saya masih mencoba berusaha membujuk suami untuk kembali kepada keluarga tetapi sia-sia, suami menyampaikan kepada ibu mertua dia ingin mencarin kebahagiaan. Terakhir kali saya mencoba meyakinkan suami untuk mengambil keputusan yg terakhir kali dan memikirkan konsekuensi setiap pilihannya dia msh berat untuk meninggalkan selingkuhannya. Saya bimbang apakah saya harus kembali sama dia atau memulai kehidupan yang baru. Saat ini saya sudah mencoba mengikhlaskan suami untuk menikahi selingkuhannya, tetapi suami berkata sdh tidak berhubungan lagi dgn selingkuhannya.Tapi kalau saya kembali sama dia, saya takut dia mengulangi lagi kesalahannya itu, orangtua saya juga sudah tidak merestui kalau saya kembali lagi sama suami. Tapi disisi lain, ketika melihat anak saya juga sedih anak saya harus berpisah sama ayahnya & seharusnya kita sama-sama membesarkannya. Saat pertama kali suami ketahuan selingkuh saya sudah mencoba merayu suami untuk memperbaiki rumah tangga kami demi anak-anak tetapi suami tidak menghiraukan. Dan selama kita berpisah suami tidak pernah memberikan uang untuk keperluan anaknya, memang sih saya bilang ke suami kalau biaya anak saya yang tanggung karna selama berumah tangga suami susah untuk di ajak kompromi masalah keuangan. Saya sudah sholat istikhoroh, dalam mimpi saya berjalan sendiri dalam kegelapan hingga mendapatkan cahaya terang di ujung jalan, mimpi-mimpi yg selanjutnya saya selalu berjalan bersama anak laki-laki saya & dalam keseharian saya juga saya selalu merasa ragu & takut dia melakukan lagi hal itu & saya harus ekstra berjuang menjaga suami agar dia ngga melakukan hal itu lagi kalau saya kembali lagi sama dia. Saya juga selalu berdoa meminta agar mengetahui isi hati suami saya apakah dia masih mencintai saya. Minta tolong masukkannya. Terima kasih sebelumnya.



-- Nur (Jombang)

Jawaban:

Wa alaikum salam marahmatullahi wabarakatuhu.

Kami bisa merasakan kegalauan anda, memilih rujuk dengan suami yang telah mentalak anda dan telah menselikuhi anda dan mengabaikan anda dan anak-anak. Atau harus berpisah dengannya dan menjalani hidup baru sebagai single parent atau menikah dengan laki-laki lain. Sebuah pilihan yang sangat sulit.

Ketika akal manusia tidak dapat menjangkau, dan akal tidak lagi mampu memutuskan perkara, maka jalan istikharah adalah pilihan tepat, yaitu mengharap petunjuk Allah menjadi solusi. Biarlah Allah memberikan pilihan dan anda menjalaninya dengan mantap dan yakin. ingat keputusan Allah adalah keputusan terbaik bagi hambaNya. Pilihan dan kehendak Allah pasti yang terbaik. Allah berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia) ( QS. Al Qashas:68)

Rasulullah saw mengajarkan istikharah kepada sahabatnya dalam segala urusan, bukan hanya urusan nikah saja.


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari)

Istikharah dilakukan untuk mendapatkan kemantapan hati dalam mengambil salah satu dari dua pilihan atau lebih. Kemantapan hati bisa ditandai dengan mimpi atau tidak. Walaupun tidak ditampakkan dalam mimpi tapi sudah diberikan kemantapan hati, maka itulah yang harus jadikan pilihan. Wallahu a’lam bishawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc