Bertahan Atau Pisah

Lain-lain, 20 Mei 2021

Pertanyaan:

Saya ifat, usia 38 tahun menikah hampir 14 tahun. saya bekerja sebagai pns dan istri juga pns. sudah hmpir 5 tahun rumahtangga kami sering cekcok. sy sudah berusaha semaksimal utk keluarga tp sm istri dianggap tidak pernah berbuat apa. sy berusaha utk bertahan demi anak2 karna anak2 sudah besar dan butuh bimbingan ortu. istri saya kalo diingatkan suka ngeyel misal kalo disuruh utk sholat tepat waktu. dia sekarang melihara kucing dan itu saya suka karna bau dan menurut saya membuat dia lalai dalam ibadah. dia lebih mementingkan kucingnya dibandingkan urusan lainnya misalkan sholat tepat waktu, dia juga suka marah dan menganggap saya tidak pernah kasih apa2.



-- Fathurahman (Cilacap)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Ketika usia pernikahan menginjak sembilan atau sepuluh tahun, setelah anak-anak lahir dan mulai beranjak mandiri, keluarga akan dihadapkan pada problem hubungan suami dan istri. Penyebabnya adalah  pada masa ini suami dan istri mulai memiliki keinginan untuk mengaktulisasikan dirinya, dan sebagai konsekwensinya adalah menyinggung masalah keuangan keluarga.

Jika sebelumnya pasangan disibukkan dengan urusan detail anak-anak yang masih memerlukan bantuan orang tuanya, mulai urusan anak mandi hingga urusan tidurnya. Maka anak mulai mandiri dan orang tua tidak lagi terlalu disibukkan dengan urusan anak-anak, maka tibalah saatnya orang tua mengurus diri sendiri dan membahagiakan dirinya sendiri dengan menyalurkan hobi dan berkegiatan lain dalam rangka mengaktulisasikan dirinya yang sebelumnya tidak mendapatkan porsi karena kesibukan mengasuh anak.

Karena suami dan istri mulai memeperhatikan kepentingan pribadinya, maka dari situlah berawal konflik suami dan istri. Masing–masing pasangan ingin eksis dan mendapatkan pengakuan. Untuk mewujudkan itu bisa denga menyalurkan hobi, seperti memelihara hewan, berkebun atau hobi lainnya, dan untuk memenuhi keinginannya itu terkadang melalaikan kewajibannya. Sementara pada sisi yang lain pasangan ini menginginkan pasangan ideal dan baik perilakunya. Maka ketika melihat pasangannya tidak seideal yang dia harapkan maka dipandang sebagai masalah yang serius dan tidak bisa ditoleransi hingga menjadi pemicu konflik. Dampaknya seringkali amarah pecah karena masing-masing pasangan memasang egonya tinggi-tinggi.

Hal-hal yang sebelumnya tidak menjadi masalah, seperti keuangan dan perhatian, maka sekarang menjadi pusat perhatian. Dulu dengan perhatian dan keuangan yang seadanya tidak menjadi masalah, sekarang menjadi masalah besar.

Untuk melewati kondisi seperti ini maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

  1. Yakinlah bahwa badai pasti berlalu, problem ini pasti akan bisa dilewati. Problem ini tidak akan permanen sebagaimana problem keluarga yang terjadi sebelumnya.
  2. Sementara waktu anda harus menurunkan idialisme anda dan harapan-harapan anda, jangan memaksakan keinginan anda segera terwujud. Ibarat main layang-layang, saatnya mengulur tali layangan, sampai datang masanya layang-layang ditarik kenjang, sehingga menjadi lebih tinggi.
  3. Pada kesempatan ini perlakukan istri dengan penuh hati-hati. Jika anda biarkan istri anda maka dia akan tetap seperti sekarang, tapi jika anda keras kepadanya maka akan patah, dan patahnya adalah perceraian. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ”

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah bersabda: "Berwasiatlah (dalam kebaikan) pada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya. Jika kamu coba meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu, maka dia bisa patah. Namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasihatilah para wanita". (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Anda sebagai suami dan kepala rumah tangga dituntut lebih sabar dan berfikir logis dalam menghadap masalah ini. Jangan terprovokasi dengan sikap istri anda. Dengan kesabaran dan ketenangan anda bisa melewati masa ini dengan baik.

Demikian yang bisa disampaikan semoga bermafaat. Wallahu alam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc