Tidak Nyaman Dengan Kebohongan Sang Suami

Lain-lain, 23 Mei 2021

Pertanyaan:

Suami saya berbohong kalau sebelum kami menikah dia mengaku sbgai duda bhkn ortu saya prcaya smpai mereka setuju untk menikahkn kami, setelah nikah barulh saya mngetahui kejadian sebenrnya klw suami saya trnyata masih punya istri dan dia memiliki satu anak, saya prnh di teror anak istrinya saya dikatakan pelakor, barulh saya tau klw trnyata slama 3 bln ini suami saya brdusta selain dihadapan Allah dia brbohong dngn kluarga saya, mohon saran apakah saya harus meninggalkn suami trsebut ?



-- Rosniar (Sulawesi Barat)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Bohong adalah induk segala dosa. Kebohongan melahirkan kebongan baru. Bohong salah satu dari tanda-tanda kemunafikan, meskipun tidak semua orang yang berbohong adalah munafik. Rasulullah saw bersabda:

 عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : أَربعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً ، وَإِنْ كَانَتْ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ فِيْهِ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفاقِ حَتَّى يَدَعَهَا : مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ  خَرَّجَهُ البُخَارِيُّ  وَمُسْلِمٌ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada empat tanda seseorang disebut munafik. Jika salah satu perangai itu ada, ia berarti punya watak munafik sampai ia meninggalkannya. Empat hal itu adalah: (1) jika berkata, berdusta; (2) jika berjanji, tidak menepati; (3) jika berdebat, ia berpaling dari kebenaran; (4) jika membuat perjanjian, ia melanggar perjanjian (mengkhianati).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernikahan hendaknya dibangun atas dasar kejujuran dan suka sama suka. Karena itu sebelum pernikahan dilaksanakan ada tahapan yang harus dilalui , yaitu ta’aruf (saling mengenal), khithbah (lamaran) dan seterusnya. Dua tahapan itu merupakan tangga pokok menuju jenjang pernikahan yang akan mengantarkan pada tujuannya yaitu: terbentuknya keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Keluarga yang penuh dengan ketenangan dan ketentraman hidup.

Jika anda ingin melanjutkan pernikahan, maka sebaiknya anda meminta kepada suami anda untuk menyelesaikan terlebih dahulu urusannya dengan istri pertamanya. Benarkah dia telah resmi bercerai secara agama dan hukum negara, sehingga anda memiliki kepastian hukum. Dengan itu anda akan terlindungi secara hukum agama maupun hukum negara.

Jika dia tidak mau menyelesaikan urusannya dengan istri pertamanya,sebaiknya anda menimbang masak-masak untuk melanjutkan atau tidak. Semua pilihan ada resiko yang akan anda terima. Karena itu sebaiknya anda berkonsultasi juga kepada orang tua anda, saudara dan orang yang anda percaya akan mampu memberi jalam keluar yang terbaik. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc