Harus Bagaimana

Lain-lain, 23 Mei 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Saya baru menjalani pernikahan 4 bulan, awal Januari 2021 tepatnya tanggal 8 Januari 2021 saya menikah tapi 4 hari sebelum saya menikah saya di PHK sehingga selama 4 bulan ini istri saya yg menafkahi lahir keluarga tapi selama 4 bulan ini jg saya tidak diam, sy berusaha mencari pekerjaan dan penghasilan dan selama 4 bulan itu jg sy memberikan hasil jerih payah saya yang tidak besar Krn bekerja serabutan KPD istri saya, pemberian saya perbulan antara 500rb - 1jt bahkan pernah lebih dan Alhamdulillah masalah beras istri sy TDK pernah keluar uang sepeserpun semua dr saya, tapi istri sy selalu merasa sy tak pernah berkontribusi dalam kebutuhan keluarga dan sering marah bahkan saat marah seolah saya TDK pernah memberikan apa2 utk kebutuhan rumah tangga dan parahnya tidak pernah bersyukur dan berterima kasih saat sy memberikan penghasilan serabutan sy... Dan akhir2 ini istri saya sering marah2, sy pernah di usir dan perkataannya seolah olah minta di ceraikan, memang TDK lsg bilang minta cerai tapi kata2 dlm marahnya menuju se arah perceraian.... Mohon pencerahannya dan bimbingannya pak ustadz.... Sy harus bagaimana



-- Nanang Anton Hartono (Bandung)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Menikah adalah menyatukan dua manusia yang memiliki potensi yang berbeda, bersatu diikat oleh komitmen yang sama dan keinginan mengisi kekurangan masing-masing. Sehingga terwujudlah keluarga yang saling memahami, saling membantu dan berjalan beriringan sepenanggungan. Berat sama dipikul,ringan sama dijinjing. Senang bersama dan susah bersama. Suami dan istri laksana satu tubuh.

Begitulah seharusnya pola hubungan suami dan istri dalam menghadapi kondisi yang menimpa keluarga. Karena kondisi keluarga tidak selalu ideal dan semestinya. Suami yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga, tapi karena kondisi bisa saja digantikan sementara oleh istrinya sampai suaminya mampu menjadi tulang punggung keluarga kembali dan sebaliknya

Menyikapi kondisi yang menimpa keluarga anda, ada beberapa saran yang bisa disampakan:

  1. Hendaknya anda menyampaikan apa yang menimpa anda dengan terus terang dan gamblang, jangan hanya anda sampaikan bahwa anda diPHK dan anda sedang terus mencari kerja dan nafkah. seorang wanita terbiasa detail dan rinci, tidak puas dengan yang global. Maka Anda perlu menyampaikan dan menceritakan secara rinci, bagaimana ceritanya anda di PHK dan betapa susahnya anda menerima kenyataan itu menjelang pernikahan.

Dan anda juga harus terbuka denngan upaya yang sedang anda lakukan dalam mencari pekerjaan baru, ceritakan setiap hari apa yang sudah anda lakukan dan anda dapatkan, mintalah pandangan dan pendapatnya. Dengan demikian dia mengetahui bahwa anda sungguh-sungguh berusaha keras.

Jika anda tidak menceritakan apa yang sedang anda lakukan, sementara dia hanya tahu bahwa anda pergi keluar rumah dan kembali ke rumah tanpa membawa sesuatu yang berarti, maka dia akan beranggapan bahwa anda tidak bertanggung jawab dan tidak serius.

  1. Menghadapi istri yang merasa kurang dalam hal nafkah adalah dengan bersabar. Karena yang seperti itu bukan hanya satu dua wanita, kebanyakan wanita seperti itu. Rasulullah saw bersabda:

أُرِيْتُ النَّارَ، فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ، وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئاً، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.

“Diperlihatkan Neraka kepadaku dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita, mereka kufur.” Para Shahabat bertanya: “Apakah disebabkan kufurnya mereka kepada Allah?” Rasul menjawab: “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat sesuatu yang jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu sekalipun.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan Rasulullah saw juga bersabda:

إِنَّ الْفُسَّاقَ هُمْ أَهْلُ النَّارِ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَنِ الْفُسَّاقُ؟ قَالَ: اَلنِّسَاءُ. قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَوَ لَسْنَ أُمَّهَاتِنَا وَأَخَوَاتِنَا وَأَزْوَاجِنَا؟ قَالَ: بَلَى، وَلَكِنَّهُنَّ إِذَا أُعْطِيْنَ لَمْ يَشْكُرْنَ وَإِذَا ابْتُلِيْنَ لَمْ يَصْبِرْنَ

“Sesungguhnya orang yang selalu melakukan kefasikan adalah penghuni Neraka.” Dikatakan, “Wahai Rasulullah, siapakah yang selalu berbuat fasik itu?” Beliau menjawab, “Para wanita.” Seorang Shahabat bertanya, “Bukankah mereka itu ibu-ibu kita, saudari-saudari kita, dan isteri-isteri kita?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi apabila mereka diberi sesuatu, mereka tidak bersyukur. Apabila mereka ditimpa ujian (musibah), mereka tidak bersabar.” (HR. Ahmad)

Dengan memperhatikan hadits yang memberi nilai buruk kepada istri yang tidak bersyukur dengan pemberian suami itu, anda harus merasa kasihan dan bersabar kepada istri. Jadikan tuntutannya sebagai pemicu semangat berusaha dan lebih menguatkan diri untuk menjadi suami yang tidak mudah terpancing dengan komentar istri.

  1. Sadarilah bahwa wanita itu lebih mendahulukan perasaannya daripada loggikanya, maka ketika dia marah, jangan ditimpali dengan kemarahan. Laki-laki dibekali kekuatan logika,tidak mudah terpancing sesuatu yang tidak logis

Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat. wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc