Istri Mengusir Suami

Lain-lain, 29 Mei 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum,

Saya menikah melalui proses taaruf, Dan sudah menikah selama hampir 4 tahun Dan sudah dikaruniai seorang anak Dan saat ini istri saya sedang Hamil anak kedua,

Dari awal saya menikah tinggal di rumah istri, dimana dalam keseharian rumah tangga, istri saya selalu di dampingi ibunya.

Selama menjalani pernikahan sering terjadi perselisihan terutama ketika Kami sudah dikaruniai anak. Sebagai suami saya selalu menasihati kepada istri saya apabila terdapat permasalahan janganlah untuk diumbar atau mengadu kepada pihak keluarga. Akan tetapi Dari awal pernikahan hingga saat ini istri saya selalu mengadukan permasalahan rumah tangga kepada keluarganya dan membuat keluarganya sering sekali ikut campur dalam urusan rumah tangga saya. Selama ini saya selalu berusaha sabar dalam menjalani rumah tangga saya walaupun seringkali martabat saya sebagai suami direndahkan istri dan keluarganya. Saya tidak pernah mau berdebat atau ribut dengan pihak keluarga istri saya dikarenakan saya menyadari karakter mereka Yang keras Dan dengan maksud saya menginginkan rumah tangga saya tetap utuh saya lebih baik menghindari pertengkaran Dan perdebatan.

Dalam keseharian istri saya sering kali berperilaku yang saya tidak sukai, contohnya istri saya ketika saya pulang kerja sekitar jam 9-10 selalu tidak ada dikamar tetapi dia tidur dikamar orang tuanya, Sehingga seringkali dia baru masuk kamar ketika tengah Malam atau menjelang subuh. Kemudian dipagi harinya dia keluar kamar dengan membawa anak ke kamar orang tuanya sampai dia mau berangkat kerja dan berpamitan dengan saya saja. Dalam hal tersbut saya sudah sering menasihatinya tetapi tetap saja sering dia lakukan.

Mungkin kesalahan saya adalah saya pernah pergi dari rumah 2 kali Karena pertengkaran.

Pertama bertengkar hingga saya mengucapkan talak dikarenakan istri saya tidak mau diajak ketempat orang tua saya, Sehingga saat itu saya pergi dari rumah dengan membawa seluruh pakaian saya ke tempat orang tua saya sekitar hampir 1 minggu. Tetapi setelah itu saya kembali kepada istri saya Dan berdamai dengannya. 

Kedua bertengkar dikarenakan saya memberikan tontonan YouTube kepada anak saya, Sehingga istri saya berkata-kata kasar Dan tidak pantas kepada saya. Dan saat itu Kami bertengkar Dan saya meninggalkan rumah 1 minggu untuk mendinginkan hari Dan pikiran ketempat orang tua saya. Tetapi saya kembali Dan berdamai dengannya.

Selanjutnya masalah yang saya tidak bisa menerima atas perlakuan istri saya adalah pada saat itu saya meminta istri saya untuk menanggung biaya ART/Pengasuh anak, Sehingga suatu ketika istri saya dengan lancang mengumbar permasalahan kepada kakaknya mengenai masalah nafkah dan penghasilan saya, bahkan sampai kakaknya ikut campur terlalu dalam. Padahal menurut saya nafkah atau uang bulanan Yang saya berikan setiap bulan untuk memenuhi kebutuhah rumah tangga Dan kebutuhah untuk menabung cukup besar berkisar 7-10 juta per bulan. Memang sebetulnya istri saya menginginkan seluruh penghasilan saya dia yang mengatur tetapi melihat perilaku istri saya selalu menjadi Ragu Dan juga saya Masih mempunyai kewajiban menafkahi kedua orang tua saya dikarenakan mereka tidak memiliki penghasilan.

Masalah selanjutnya Yang saya tidak bisa menerima adalah ketika waktu itu dikarenakan saya memberikan tontonan YouTube kepada anak saya, untuk kedua kalinya istri saya marah Dan dengan terang-terangan mengadu kepada kakaknya kalo dia ingin bercerai. Padahal waktu itu saya ada uzur dikarenakan saya sedang bekerja dirumah (WFH) Sehingga saya memberikan pengalihan kepada anak saya melalu youtube.

Sehingga suatu saat kakaknya menjudge saya bahwa saya ini banyak melakukan kesalahan Karena sering pergi keluar rumah saat sedang bertengkar dan sampai urusan ranjang pun dipermasalahkan Karena istri saya sedang Hamil muda. Dan pertama kalinya saya menentang atas perlakuan kakaknya, saya langsung di usir dari rumah Tampa diberi kesempatan bertemu anak Dan istri saya. Hingga saat ini istri saya memblokir nomor saya sehingga saya tidak bisa berkomunikasi dengan anak setelah kejadian itu.

Mohon petunjuknya bagaimana saya menyikapinya?

Dalam hal nafkah apakah istri saya Yang sedang Hamil Masih berhak menerima nafkah Dari saya?

Dalam hal nafkah anak saya selalu mengalokasikannya Dan mengirimkan ke rekening istri saya.



-- Candra (Cimahi)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahamtullahi wabarakatuhu.

Sebelum menjawab pertanyaan anda, terlebih dahulu yaitu status pernikahan anda., apakah anda dan istri masih berstatus suami istri atau tidak. Dengan jelasnya status pernikahan anda, maka akan jelas pula hak dan kewajiban anda kepada istri dan anak-anak. Karena itu, hal pertama yang harus anda perjelas adalah status pernikahan anda.

Jika dipandang bahwa keluarga anda sudah tidak bisa dipertahankan lagi, maka segera lakukan proses talak secara agama dan Negara,sehingga akan jelas pula hak dan kewajiban anda kepada anak dan istri secara agama dan negara.

Jika anda memutuskan untuk berpisah, maka setelah perpisahan itu ada kewajiban yang tetap harus anda lakukan kepada anak anda. Yaitu kewajiban ayah terhadap anak. Adapun kepada istri anda tidak ada memiliki hak dan kewajiban apapun kecuali hak dan kewajiban seperti kepada orang lain pada umumnya, karena Anda dan istri tidak memiliki hubungan apa-apa lagi

Kewajiban yang masih melekat kepada anda adalah kewajiban kepada anak, karena anak anda akan tetap menjadi anak anda. Segala hal yang menjadi kewajiban orang tua kepada anak, akan tetap menjadi kewajiban anda sebagi orang tua, seperti kewajiban memberi nafkah, mendidik dan kewajiban lainya sesuai dengan kemampuan yang anda miliki, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan kewajiban itu wajib anda berikan kepada anak pertama yang sudah lahir maupun anak anda yang masih dalam kandungan. Maka sudah tepat jika anda tetap mengirimi nafkah untuk anak lewat ibunya yang mengasuhnya.

Adapun Jika anda dan istri masih berstatus sebagai suami dan istri dan anda ingin tetap mempertahankan pernikahan ini maka ada beberapa saran:

  1. Hendaknya anda dan istri tinggal di rumah sendiri, baik kontrak maupun beli rumah sendiri. Dengan anda tinggal di rumah sendiri anda memiliki keleluasaan untuk mengatur rumah tangga anda tanpa campur tangan orang lain. Dengan tinggal di tempat tinggal sendiri anda dan istri akan menjadi raja dan ratu yang sebenarnya. Segala hal akan diselesaikan secara bersama-sama.

Keberadaan orang ketiga dalam rumah tangga yang ikut campur urusan rumah tangga hanya akan menjadi sumber masalah jika tidak mampu memposisikan diri secara bijak.

  1. Jika istri anda tidak mau dengan pilihan anda yaitu tinggal di rumah sendiri, maka bersabarlah. Anda sudah merasakan sendiri akibatnya. Jika anda memilih sabar dengan kondisi itu, maka anda tidak perlu mengeluh, Itu resiko jalan yang anda pilih, semoga suatu saat terjadi perubahan.
  2. Orang tua dan saudara istri anda banyak ikut campur urusan keluarga anda, satu hal yang seharusnya tidak dilakukan kepada mereka yang sudah berkeluarga. Hal itu tentu tidak baik.

Sebaiknya ada yang memberikan nasehat kepada mereka, agar tidak melakukannya kembali diwaktu yang akan datang. Anda bisa minta tolong kepada orang yang punya pengaruh kuat kepada keluarga itu untuk menasehatinya.

  1. Jika segala upaya sudah dicoba untuk dilakukan untuk perbaikan dan tidak ada perubahan lebih baik. Maka pilihan pisah bisa menjadi alternative.

Demikian yang bisa disampaikan semoga ada manfaatnya. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc