Haruskah Bertahan Demi Anak Atau Berpisah


Pertanyaan:

Assalamualaikum pa ustaz/bu ustazah, saya mau curhat, saya sudah menikah selama 15 tahun,  9 tahun kami menikah baru di karuniai anak satu dan sekarang berusia 6,5 tahun,  usia perkawinan ke 6 tahun, suami selingkuh dengan teman kerja nya, dengan alasan karna saya blm punya anak, dan saya pun meminta di ceraikan, tapi suami tdk mau menceraikan , saya tdk pernah menuntut masalah nafkah lahir, berapa pun gajinya dalam sebulan selalu saya terima,  karna saya wanita bekerja, dalam belanja kebutuhan yg lain pun klo kurang selalu pakai uang dari hasil kerja saya, tapi sptnya suami saya tdk pernah merasa klo keuangan dalam rumah tangga di bantu sm saya, dari rumah, mobil semua nya dari hasil keringat saya, suami saya kadang tdk bersikap baik, marah2, dan kadang berbohong, apalagi suami saya punya hutang kepada saya sebelum menikah, yg sampai skrg ibu saya tdk tahu haruskan saya bertahan atau berpisah, terima kasih



-- Nina (Tangerang)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik. Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, termasuk di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian.

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa dengan menghadirkan fihak ketiga yang mempunyai kompetensi untuk menjadi penengah

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah anda dengan suami tersebut berlarut larut tidak ada ujungnya, Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami, dan saya melihat sepertinya sangat diperlukan hadirnya fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum Islam dan hukum pernikahan dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi sekaligus menasehati kalian berdua dan lebih khusus kepada suami anda yang abai dan kurang faham akan perannya sebagai seorang suami, hal tersebut perlu segera anda lakukan dalam upaya bersama mencari solusi terbaik

Disamping upaya tersebut, ada hal mesti anda lakukan yaitu mendekat kepada Allah dengan optimal, memohon agar Allah berkenan membuka hati suami anda dan berkenan memberikan hidayah kepadanya secara khusus dan berkenan untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga anda

Dan apabila upaya ioptimal telah anda lakukan, dan suami tetap dengan sikap sikapnya, sementara anda sebagai istri sudah tidak lagi sabar dan tahan, maka barangkali perceraian bisa menjadi solusi terakhir yang bisa anda tempuh.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb



-- Agung Cahyadi, MA