Bercerai Atau Bertahan?


Pertanyaan:

Assalamualaikum pak ustad..

Mohon saran dan solusi atas permasalahan rumah tangga saya.

Saya sudah menikah selama 9th 3bulan,dengan duda memiliki 2 anak ,dan saya berstatus gadis saat menikah dng suami saya.2 anak suami saya ikut hidup bersama saya sejak usia SD kelas 1 sampai lulus SMP.hasil pernikahan saya Allah berikan saya 4anak yg usianya terpaut 2th 2 th. Selama 9th ini suami tidak pernah memiliki pekerjaan yg bisa ditekuni dalam waktu panjang,paling lama bekerja hanya 1 th,selalu keluar masuk kerja dng masalah2 yg ada,secara ekonomi saya sangat minim,sebagi istri saya sering membantu kekurangan finansial dari mulai berdagang hingga menjadi ART bahkan,petnah hingga meminta makan ke lembaga yatim dan dhuafa.saya sering pindah2 kontrakan krna tidak mampu bayar sewa.dan saat ini saya sudah lelah krna masalah yg saya hadapi selalu sama,suami tidak bisa bekerja dng tekun,tidak pernah beribadah,selalu numpuk hutang rentenir,dan suami pun selalu mengecewakan orang lain dng sering pinjam uang tanpa mengembalikan.saat ini saya bingung,apakah saya masih harus mempertahankan rumah tangga saya yg terus2 minus secara finansial dan terus numpuk hutang atau saya lebih baik berpisah dng suami?tapi saya memikirkan mental 4 anak saya yg masih kecil2 usia anak2 7th,6th,4th dan 3th.apa yg harus saya lakukan? bercerai atau bertahan?



-- She Aryani (DKi Jakarta )

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Siapapun dari kita yang berkeluarga, tentu menghendaki kedamaian dalam kehidupan rumahtangganya, karena hanya dengan suasana damai sajalah, suami istri akan bisa membangun dan mengatur rumah tangganya dengan baik. Namun yang namanya problem dan masalah keluarga itu memang bisa terjadi dalam rumah tangga siapa saja, termasuk di keluarga anda tentunya, sebagaimana anda telah ceritakan, tetapi yakinlah bahwa anda tidak sendirian.

Dan ketika terjadi masalah dalam keluarga yang bisa menyebabkan hilangnya suasana damai, mestinya harus segera diupayakan untuk diurai dengan berbagai cara, agar suasana damai bisa kembali bisa dirasakan bersama.

Upaya untuk mengurai masalah tersebut bisa dimulai dan in syaa Allah akan efektif, kalau ada kesiapan suami istri untuk membangun komunikasi yang baik, dengan masing2 menyampaikan masalah yang dirasakan, dilanjutkan dengan  saling memberikan masukan, memusyawarahkan masalah yang ada, dan bila diperlukan bisa dengan menghadirkan fihak ketiga yang mempunyai kompetensi untuk menjadi penengah

Dan karena itu, seyogyanya anda tidak membiarkan masalah anda dengan suami tersebut berlarut larut tidak ada ujungnya, Untuk itu segeralah komunikasikan hal tersebut dengan suami anda, ajaklah duduk bersama dengan cara yang baik dan dengan bahasa yang lembah lembut, pilihlah waktu yang kondusif, sehingga suasana komunikasi bisa berjalan dengan baik, cair dan bahkan santai, Kemudian komunikasikan masalah anda kepada suami, dan saya melihat sepertinya sangat diperlukan hadirnya fihak ketiga yang kalian berdua yakini mempunyai kompetensi dalam hukum Islam dan hukum pernikahan dan kalian yakini mampu untuk menjadi penengah dalam mengurai problem yang sedang anda hadapi sekaligus menasehati kalian berdua dan lebih khusus kepada suami anda yang abai dan kurang faham akan perannya sebagai seorang suami, hal tersebut perlu segera anda lakukan dalam upaya bersama mencari solusi terbaik

Disamping upaya tersebut, ada hal mesti anda lakukan yaitu mendekat kepada Allah dengan optimal, memohon agar Allah berkenan membuka hati suami anda dan berkenan memberikan hidayah kepadanya secara khusus dan berkenan untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga anda

Dan apabila upaya ioptimal telah anda lakukan, dan suami tetap dengan sikap sikapnya, sementara anda sebagai istri sudah tidak lagi sabar dan tahan, maka barangkali perceraian bisa menjadi solusi terakhir yang bisa anda tempuh.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb



-- Agung Cahyadi, MA