Meragukan Cinta Suami

Lain-lain, 1 Juni 2021

Pertanyaan:

Kami sudah menikah lebih dari seperempat abad, bahkan sudah dikaruniai seorang cucu. Beberapa tahun belakangan ini saya merasakan suami tidak mencintai saya lagi. Karena dia sudah berhubungan kembali dengan mantan pacarnya yang masih perawan tua. Mereka sering bertemu baik saat reuni kampus mereka atau memang janjian untuk bertemu. Sedangkan perlakuan suami kepada saya terasa sangat tidak ada perhatian, dia tega melempar saya dengan kursi karena saya menanyakan tentang pertemuannya yang sering dengan mantannya itu. Sangat pelit sehingga saya merasa dia tidak menganggap saya ini seperti istrinya yang wajib dia nafkahi dan dibuat bahagia. Tega meninggalkan saya sendiri bila kami sedang bepergian malah asyik bercanda dan bergaul dengan perempuan lain. ketika saya tanyakan tentang sikapnya itu, dia bilang masih mencintai saya, dia menuduh saya saja yang terbawa perasaan. Tapi semua perbuatannya itu menunjukkan kalau dia tidak memiliki rasa kasih saya kepada saya sebagai istrinya.

Saya juga sudah lelah mengingatkannya. apa yang sebaiknya saya lakukan

Yanti



-- Yanti Wira (Denpasar)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Ketika seseorang dalam berumah tangga telah mencapai pencapaian tertentu dalam kehidupan rumah tangganya, seperti anak-anak sudah dewasa dan mereka mulai jarang di rumah karena kesibukannys, telah ada yang menikah dan berkeluarga sendiri, telah mencapai karir finansial tertentu dan  telah memasuki usia 50 tahun, maka muncul potensi melakukan perilaku yang aneh dan tidak biasa dilakukan sebelumnya. Pemicunya bisa banyak hal, seperti kebosanan dengan kehidupan yang monoton dalam keluarga, kesepian dan munculnya kenangan lama yang menyapa kembali. Reuni menjadi acara yang cukup menyenangkan, bertemu dengan teman lama menjadi sangat mengasikkan. Kadang hal itu bisa melalaikan keluarga.

Untuk menyikapi perilaku suami anda,ada beberapa saran yang bisa dilakukan,semoga memberi dampak positif:

  1. Bersyukur

Alhamdulillah anda diberikan Allah pasangan yang baik dan peduli kepada keluarga selama 25 tahun lebih. Tentu usia pernikahan yang telah mencapai seperempat abad lebih  itu patut disyukuri. Bukankah rasa syukur itu yang menambah nikmat? Allah berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim : 7)

Sedang kufur nikmat akan medatangkan azab dari Allah swt. Azab itu bisa dikuranginya nikmat sampai dicabutnya seluruh nikmat itu. Apakah anda telah cukup mensyukuri nikmat Allah berupa seorang suami dan keluarga?.

Nikmat yang melekat lama terkadang tidak terasa lagi sebagai nikmat, dianggap biasa-biasa saja. Baru dirasakan sebagai nikmat yang berharga ketika nikmat itu berkurang atau hilang.

  1. Buatlah suasana rumah tangga menjadi surga bagi suami anda, hadirkan kembali suasana pengantin baru. Tidak ada salahnya menghadirkan kembali suasana bulan madu. Mungkin kelihatan berlebihan, tapi tidak ada salahnya dicoba, agar suami tidak perlu mencari cinta diluar rumah.
  2. Kebutuhan laki-laki terhadap kasih sayang dan cinta terus menyala meskipun telah lanjut usia. Hal itu berbeda dengan perempuan yang lebih membutuhkan perlindungan dan ketenangan hidup. Hal ini sering membuat bertepuk sebelah tangan. Jika laki-laki tidak cukup memiliki tameng diri, dia bisa terjerumus kepada perbuatan tercela.
  3. Segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Jadikan kejadian itu sebagai sarana untuk evaluasi diri. Barangkali ada yang perlu diperbaiki sebelum kita menilai dan menuntut orang lain memperabaiki diri.
  4. Yakinlah bahwa badai ini pasti berlalu dan yakinlah bahwa suami anda akan kembali peduli kepada anda. Ujian dari Allah ini harus disikapi dengan sabar dan tawakal. Dengan keyakinan dan usaha yang terus menerus, insyaAllah dia akan memilih anda keluarganya.

Demikian yang bisa disampaikan semoga bisa menjadi solusi. Wallahu alam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc