Hilang Motivasi Karena Keluarga Suami Ikut Campur

Lain-lain, 13 Juni 2021

Pertanyaan:

Assalamualaykum. Ijin bercerita dan bertanya.

Sebelum menikah, saya orang yg sangat ambisius, bersemangat untuk mencari ilmu dan dalam ibadah. Qadarullah saya menempuh jenjang pasca di salah satu kampus ternama sehingga semangat saya untuk mengejar karir dan berkuliah pun tinggi.

Singkat cerita, setelah saya menikah. Saya tinggal dengan mertua. Suami adalah anak satu2nya. Saya menikah tepat setelah saya lulus S2. Awal2 menikah, saya dan suami berambisi untuk menuntut ilmu di luar kota atau bahkan luar negri. Saya pun bersemangat mencari kerja, tapi memang saat itu tempat yg saya tuju berada diluar sidoarjo. Sehingga timbul ikut campur dari kakak ipar perempuan. Keluarga suami tidak memperbolehkan suami saya jauh dr rumah orang tuanya. Patah semangat saya. Setiap saya dan suami ingin melamar pekerjaan/kuliah di tempat yg jauh selalu saja ada konflik dan keluarga suami ikut campur. Hampir tiga tahun berlalu, dan saya kehilangan semua semangat menjadi lebih baik. Ingin mengejar cita2 bersama tapi merasa terkekang. Kadang saya merasa rumah tangga kami kurang sehat krn saya tidak bisa leluasa mengatur rumah tangga saya. Selalu ada konflik batin dlm diri saya. Ingin saya merawat kedua orang tua saya dgn cara beliau ikut dengan saya. Sehingga saya merasa bisa mengejar cita2 dan membersamai mereka. Namun, jika caranya adalah harus saya yg mengikuti mereka dan menjadi lempeng, saya takut semakin banyak waktu luang yg saya buang sia2 krn patah semangat. Bagaimana cara saya bisa bersemangat kembali dan menjalin rumah tangga yg sehat tanpa campur tangan mertua terlebih lagi ipar?

Demi hidup dan ibadah menjadi lebih baik.



-- Wahyu (Sidoarjo)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Ketika seseorang hidup sendiri maka dia bisa melakukan apa saja sesuai dengan kemauan dan keinginannya sendiri tanpa ada yang menghalanginya dan ikut campur urusannya. Tetapi ketika seseorang menikah dan menjadi bagian dari keluarga orang lain maka dia tidak bisa dipisahkan dengan keterlibatan orang lain. Terutama keterlibatan orang terdekat, baik itu suami, mertua maupun saudara ipar. Keterlibatan itu tidak akan menjadi masalah jika tidak sampai melampui batas-batas norma sosial dan agama. Keterlibatan itu tidak boleh melampui batas-batas privasi dan hak orang lain. Orang boleh memberi saran, tapi tidak boleh memaksakan kehendak.

Untuk mengembalikan semangat dan kemandirian dalam berkeluarga kuncinya ada pada diri anda dan suami. Bukan pada orang lain. Jika anda dan suami memiliki ketegasan sikap, maka orang lain akan menyesuaikan sikap anda dan suami. Jika anda dan suami masih bisa diintervensi orang lain, maka anda akan selalu berada di bawah kendali orang lain.

Salah satu cara untuk mendapatkan kemandirian keluarga dan meminimalisir intervensi orang lain adalah tinggal di tempat tinggal sendir atau rumah sendiri. Dengan tinggal di rumah sendiri maka anda dan suami akan memiliki kemerdekanaan mengatur rumah tangga sendiri, termasuk merencanakan masa depan sendiri. Dengan tinggal di rumah sendiri, peran dan fungsi suami dan istri akan terfasilitasi dengan baik. Suami akan bisa menjadi kepala keluarga dan istri akan menjadi pengelola keluarga. Dalam hal pembagian fungsi dan peran ini Rasulullah saw bersabda:


كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selama anda dan suami belum tinggal di rumah sendiri, dan masih tinggal bersama orang tua, maka anda akan mudah diintervensi oleh keluarga suami.

Jika tinggal di rumah sendiri tidak memungkinkan karena beragam sebab yang memaksa harus tinggal bersama mertua, maka harus ada kesepakatan antara anda dan suami  dengan keluarga mertua. Dimana kesepakatan itu dalam rangka menjaga privasi dan menjaga hak-hak rumah tangga orang lain. Boleh tetap tinggal serumah dengan mertua, tetapi hak dan kewajiban masing-masing dihormati dan tidak boleh terjadi intervensi.

Sebenarnya hidup bersama mertua tidak selalu menjadi masalah jika setiap orang yang tinggal di rumah itu saling menjaga dan menghormati hak masing-masing. Banyak pasangan suami istri yang tinggal bersama mertua, justru mertualah yang sangat membantu anak dan menantunya.

Jadi semua kembali kepada kesatuan dan kesamaan sikap anda dan suami, dan komunikasi yang baik dengan keluarga, sehingga terjadi sikap saling memahami, kemudian saling membantu dan saling mendukung. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc