Konsultasi

Pernikahan & Keluarga, 19 Juni 2021

Pertanyaan:

Suamu di luar negeri Istri di Indonesia

Hubungan keduanya sejak menikah sudah tidak harmonis dikarenakan suami selalu curiga(tidak percaya)

Suami kirim uang secukupnya menurut dia.

Istri ga mau minta karena takut diungkit2 atau takut dihina

Istru sudah sering sekali berusaha menjalin komunikasi dg baik untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya.

Namun yg didapati sakit hati dan tekanan2 dari suami.dan suami melarang istri bekerja. Istri mau ikut tinggal bersama suami, suami tidak mengizinkan. Padahal semua dokumen sudah siap semua.

Akhirnya istri bekerja tanpa sepengetahuan suami.

Apakah istri berdosa tidak menuruti larangan suami?

 

 

 



-- Masanih (Jakarta Timur)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Mentaati perintah dan larangan suami bagi seorang istri adalah wajib hukumnya, selama tidak memerintahkan kepada yang haram. Dan melanggarnya adalah berdosa. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

 لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi)

Sujud kepada sesama manusia adalah haram, seandainya diperbolehkan maka, istri akan diperintahkan untuk sujud kepada suami. Hal itu menunjukkan bahwa kedudukan suami adalah sangat tinggi .

Ketaatan kepada suami bisa menjadi jalan surga bagi seorang istri. Seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

 إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” (HR. Ibnu Hibban)

Terkait inisiatif anda untuk bekerja dalam rangka untuk menambah penghasilan yang menurut anda apa yang diberikan oleh suami belum cukup, itu sesuatu yang baik jika mendapat ijin suami, tapi karena anda telah dilarang untuk bekerja, maka taat kepada larangan suami itu lebih baik, dan bekerja tanpa ijin suami adalah kemaksiatan.

Jika seorang istri berpuasa tanpa ijin suami dilarang, bagaimana dengan bekerja tanpa ijin suami?

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 لاَ تَصُمِ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَلاَ تَأْذَنْ فِيْ بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ كَسْبِهِ مِنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّ نِصْفَ أَجْرِهِ لَهُ.

 “Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnat) sedangkan suaminya ada (tidak safar) kecuali dengan izinnya. Tidak boleh ia mengizinkan seseorang memasuki rumahnya kecuali dengan izinnya dan apabila ia menginfakkan harta dari usaha suaminya tanpa perintahnya, maka separuh ganjarannya adalah untuk suaminya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

oleh sebab itu tinggalkan kerja anda dan taatilah perintah suami anda, semoga itu menjadi jalan keharmonisan anda dimasa yang akan datang. Buktikan bahwa anda adalah istri setia dan taat serta dapat dipercaya sehingga dia tidak terus mencurigai anda. Curiganya adalah bukti cintanya kepada anda. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc