Bagaimana Saya Harus Bersikap

Pernikahan & Keluarga, 23 Juni 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb

Saya seorang istri dimana saat ini saya sdg berada dalam situasi yg cukup membingungkan bagi saya.

Saya pada saat menikah dg suami saya sama2 berstatus janda dan duda saat itu. Dimana setelah kami menikah anak2 saya (saya titipkan sementara dg mama saya karena saat itu ekonomi kami belum stabil, dan anak2 suami berada dg ibu kandung mereka). Selama kurang lebih 5 tahun, dimana perekonomian kami semakin terpuruk dan mama saya karena beliau sdh tua dan hanya tinggal dg anak2 saya, maka saya memutuskan utk plg menjaga beliau dan anak2. Suami sgt tdk setuju dg rmh tangga yg terpisah spt ini. Dan saya juga tdk tega meninggalkan anak2 dan mama saya. Apakah yang harus saya perbuat?

Selama berpisah suami tdk pernah memberikan nafkah materi. Kalau pun ada uang yg dikirimkan apabila saya membutuhkan uang transport utk menjenguknya. Dan itu cukup utk transport saja.



-- Cynthia Savitri (Surabaya)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Jika terjadi problem dalam keluarga, hendaknya suami dan istri melakukan musyawarah dan diskusi untuk mendapatkan jalan keluar yang bisa menjadi kebaikan bagi istri, suami dan anak-anak serta orang tua. Tidak hanya sekedar berfikir untuk kebaikan diri sendiri, tapi juga kebaikan orang lain. Karena harus memikirkan kebaikan orang lain maka harus sama-sama punya prinsip saling mengalah. Karena prinsipnya saling mengalah maka tidak ada yang menang sendiri dan juga tidak ada yang kalah sendiri. Ibarat orang yang berdiri disudut yang berlawanan maka keduanya harus sama-sama mau meninggalkan sedikit tempatnya untuk sama-sama ketemu di titik tengah. Ini yang dimaksud dengan sama-sama mengalah untuk kemenagan bersama. Jangan menuntut orang lain yang mendekat ke dirinya sementara dia hanya tetap berdiri di tempatnya. Bermusyawarah sangat dianjurkan untuk menyelesaikan segala masalah termasuk urusan keluarga. Allah swt berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. [Ali ‘Imran : 159]

Untuk kebaikan bersama ada beberapa saran yang bisa kami sampaikan:

  1. Bicarakan baik-baik masalah ini dengan suami secara baik-baik, sampaikan apa keinginan anda dan apa resiko dari keinginn itu. Contoh anda ingin menjaga ibu dan anak-anak, konsekwensinya anda harus berpisah dengan suami, jika suami tidak setuju, maka apa solusi yang dia tawarkan, apakah bisa ibu anda dan anak-anak anda kumpul satu rumah dengan suami, sehingga tidak perlu berpisah tempat tinggal? Demikian pula dengan masalah lain harus dibicarakan baik-baik.
  2. Kenapa suami anda tidak setuju dengan anda tinggal di tempat terpisah dengannya? Tentu dia mempunyai alasan yang melatar belakanginya. Karena itu dengar alasannya dan berikan solusinya dan sepakati bersama solusi yang sama-sama bisa diterima. Ingat prisip: sama-sama mengalah untuk menang bersama.
  3. Jika setelah bermusyawarah dan saling menyampaikan pendapat telah dilakukan, dan ternyata tidak ada titik temu yang bisa disepakati, maka untuk kebaikan bersama, alternative berpisah bisa menjadi pilihan terakhir yang tidak bisa dihindari, agar tidak terjadi kedzaliman dalam keluarga, disebabkan suami yang tidak mau menunaikan kewajibannya dan istri yang tidak taat kepada suaminya dan agar supaya tidak terjadi pelanggaran syariat lainya,baik itu dilakukan oleh suami atau oleh istri.

Demikian saran yang bisa kami sampaikan semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc