Tidak Bisa Menerima Suami

Lain-lain, 28 Juni 2021

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wr wb Ustadz, mohon pencerahannya. Saya sudah menikah kurang lebih 8 tahun dan sudah dikaruniai 4 orang anak, usia anak pertama 8 tahun, anak ke 2 usia 3 tahun dan 2 bayi kembar usia 1 tahun, dari awal pernikahan saya sama suami sering bertengkar bahkan sering kali berniat bercerai karena perbedaan usia kami hampir 10 tahun dan suami tidak punya ilmu agama yang baik tidak bisa mengaji dan sholat, bahkan kurang bertanggung jawab soal nafkah karena saya bekerja dan punya penghasilan sendiri, namun setiap saya teguh ingin bercerai saya hamil lagi, dan setelah saya hamil anak kembar saya, saya berhenti bekerja agar suami sepenuhnya memberi nafkah, tapi itu hanya harapan saya nyata nya sekarang saya ditanggung oleh beberapa saudara saya. Saya sakit hati dan susah untuk memaafkan suami, sejak saya hamil anak kembar, saya dan suami sudah tidak tidur bersama lagi, ketika marah suami langsung berucap pisah, dan terakhir kali berucap cerai, saya menolak melayani karena saya merasa sudah ditalak oleh suami, namun suami menganggap sepele ucapannya dan saya berdosa karena menolaknya. Sekali lagi mohon pencerahnya ustadz, terima kasih



-- Rahma Dani (Samarinda )

Jawaban:

wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Utuk menjawab pertanyaan diatas, akan kami bahas menjadi beberapa poin, antara lain:

  1. sering bertengkar.

Pertengkaran antara suami dan istri itu wajar, karena mereka berdua berangkat dari latar belakang yang berbeda dan pola pendidikan keluarga yang berbeda pula. Perselisihan terjadi karena keduanya belum saling mengenal sehingga menimbulkan salah faham. Karena itu hendaklah masing-masing pasangan berupaya untuk menggali pasangannya agar saling mengenal, sehingga dengan itu bisa mensikapi kebaikan maupun keburukan yang ditemui dengan sikap yang baik. Jangan hanya berharap kebaikannya saja tanpa mau menerima sisi buruknya.

Tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada manusia yang buruk seratus persen. Saling melihat sisi baik akan menutup sisi buruk masing-masing. Saling melihat kekurangan akan menguak noda kecil dan menjadikannya noda sebesar  raksasa.

  1. Terkait dengan sisi buruk suami anda dari sisi pengetahuan agama dan ibadahnya, bisa anda lihat itu sebagai kekurangan yang bisa menjadi alasan anda untuk tidak respek atau tidak menaruh perhatian kepadanya dan bisa menjadi alasan untuk benci kepadanya. Tapi bisa juga sebaliknya itu menjadi lahan kebaikan untuk anda. Sebagai peluang pahala dengan mendakwahinya. Banyak orang yang dulunya memiliki perilaku buruk, kemudian dia bertaubat dan mejadi alim. Jangan beputus asa dari rahmat Allah, semoga Dia memberi hidayah kepada suami anda. Allahlah yang bisa memberi petunjuk dan Dia pula yang bisa menyesatkan manusia. Allah swt berfirman:

مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِيْۚ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang rugi. (QS. Al a’raf:178)

  1. Terkait dia tidak mau mencari nafkah, yang menjadi pertanyaan adalah: apakah itu telah menjadi perilakunya sejak pengantin baru dulu? artinya sejak dulu begitu atau perilaku itu baru anda rasakan akhir-akhir ini saja? Jika perilakunya dari dulu begitu, kenapa hal itu bisa terjadi, apakah disebabkan karena anda bekerja sehingga dia menikmati kemalasannya itu dan dia semakin tidak bertanggung jawab atau sebenarnya dia awalnya dulu bekerja, karena hasil kerjanya kurang banyak sehingga anda ikut bekerja untuk membantu nafkah keluarga, tapi niat baik anda membantunya membuat dia merasa tersaingi sehingga dia semakin malas.

Apapun alasan dan sebab dia tidak mencari nafkah adalah kesalahan dan perilaku tidak bertanggung jawab. Kewajiban suami adalah memberi nafkah keluarga semaksimal kemampuannya. Allah swt berfirman:

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang telah Allah karuniakan kepadanya. Allah tidaklah memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang telah Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan” (Ath Thalaq : 7)

Juga firmanNya.

 وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik”.(Al Baqarah : 233).

  1. Terkait sikap anda menolak melayani suami anda karena anda beranggapan bahwa anda telah ditalak, sementara suami anda menganggap enteng masalah, maka sikap anda itu benar atau salah tergantung pada kepastian status pernikahan anda sekarang ini. Jika status anda telah ditalak suami dengan talak tiga maka anda berhak menolaknya, karena dia bukan suami anda lagi, tapi jika ternyata anda masih berstatus istri, maka anda wajib melayaninya. Untuk menyamakan pemahaman anda dan suami terhadap status talak anda maka sebaiknya anda berdua berkonsultasi kepada orang yang memahami masalah itu atau anda berdua bertanya ke KUA, sehingga status anda menjadi jelas.

Demikian pembahasan yang bisa disampaikan semoga bermanfaat. Allahumma aamiin. (as)



-- Amin Syukroni, Lc