Mandi Junub

Thaharah, 8 Agustus 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum,ustadz saya mau bertanya tentang mandi junub,jika kita mandi junub ada kotoran yang masuk diujung kuku kaki yang sulit dihilangkan itu bagaimana ustadz?saya sering was was karenanya



-- Andi (Malang)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb

Zainuddin al Malibari, dalam kitabnya Fathul Mu’in menjelaskan bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa kotoran yang ada dalam kuku jika menjadi penghalang sampainya air ke kulit adalah membatalkan wudhu (dan juga mandi junub).

Akan tetapi Hujjatul Islam, Imam al Ghazali seorang fakih dan ushuli menentang pendapat mayoritas ulama tersebut. Penulis kitab ushul fikih Al Mustashfa ini berpendapat kebalikannya. Yakni, kotoran yang ada dalam kuku tidak membatalkan wudhu.

Pendapat Imam Ghazali ini didukung oleh Imam al Zarkasyi dan ulama-ulama ahli fikih yang lain. Para ulama yang ada di barisan ini memberikan argumen yang panjang lebar untuk menguatkan pendapat mereka bahwa kotoran yang ada di dalam kuku adalah ditolerir, kecuali kotoran tersebut berupa adonan roti.

Satu lagi ulama yang mendukung pendapat Iman Ghazali adalah Imam al Kurdi seperti termaktub dalam kitab Hawasyi Al Syirwani, mengutip pendapat Imam al Zayyadi dalam kitab Syarah Al Muharrar. Menurut al Kurdi masalah kotoran kuku, baik kuku kaki ataupun kuku tangan, menjadi fenomena yang umum terjadi dan sulit untuk dihindari. Karenanya semestinya memang tidak membatalkan wudhu.

Senada dengan pendapat ini bisa dijumpai dalam kitab Hasyiyah al Tuhfah dan Ziyadatu Al ‘Ubadi. Kotoran kuku tidak menghalangi sahnya wudhu sebab sulit untuk dihilangkan (ma’fu). Bedanya halnya dengan adonan roti wajib untuk dihilangkan karena jarang terjadi dan mudah menghilangkannya.

Dipihak lain, Imam al Baghawi, fakih sekaligus mufassir ternama, pengarang tafsir yang kitabnya populer dengan Tafsir al Baghawi justru membuat klasifikasi. Menurutnya, jika kotoran yang ada di bawah kuku berasal dari debu maka membatalkan wudhu. Tetapi jika kotoran tersebut akibat keringat sendiri yang kemudian mengeras maka wudhunya tidak batal.

Ikut pendapat yang mana?

Hal pertama yang harus kita perhatikan bahwa dalam ibadah kita harus hati-hati, tidak boleh mengambil yang paling ringan bila mampu mengerjakan pendapat yang lebih berat. Maka dalam menyikapi beda pendapat para ulama seperti telah ditulis di depan, kita harus bersikap proporsional.

Bagi Meraka yang tangannya jarang bersentuhan dengan kotoran, seperti pekerja kantoran, alangkah baiknya mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa kotoran di dalam kuku membatalkan wudhu. Sementara untuk pekerja kasar yang selalu bersentuhan dengan benda kotor lebih baik mengikuti pendapat yang tidak membatalkan.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA