Bisikan Setan

Lain-lain, 24 Agustus 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

Saya ingin bertanya apakah perbedaan antara bisikan setan dan kata hati. Dan apakah setiap bentuk kekufuran contohnya nenghina Allah SWT dan Rasulullah maupun keraguan merupakan bagian dari bisikan setan?



-- Sekar Rasi (DKI Jakarta)

Jawaban:

Wa alaiku salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Setan merupakan sifat yang menggambarkan keadaan makhluk yang jahat, membangkang, tidak taat, suka maksiat, suka melawan aturan, dan durhaka baik itu makhluk dari kalangan jin, maupun manusia.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

الشَّيْطَانُ جَاثَمَ عَلَى قَلْبِ اِبْنِ آدَمَ فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ فَإِذَا ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى خَنَّسَ

Setan itu mendekam pada hati manusia. Jika ia luput dan lalai, setan menggodanya. Jika ia mengingat Allah, setan akan bersembunyi.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 13:469-470, Adh-Dhiya’ dalam Al-Mukhtar 10: 367 dengan sanad yang sahih).

Setan adalah sebutan untuk sifat jahat, membengkang, tidak taat, suka maksiat dan tidak taat peraturan. Baik itu pada jin, manusia, binatang dan lain sebagainya. Karena setan itu merupakan sifat, maka dia melekat pada sesuatu itu.

Adapun hati yang hati yang dikaitkan dengan “kata hati”, maksudnya adalah hati nurani, hati yang bersih dan murni atau fitrah.

Maka untuk membedakan apakah hal itu bisikan setan atau kata hati, dapat dibedakan dari isinya. Jika mengajak kepada kemungkaran, durhaka, tidak taat, maksiat dan sebagainya maka itu bisikan setan. Jika mengajak kebaikan maka dia berasal kata hati.

Setan dari kalangan jin bisa menyertai manusia ketika dia tidak berdzikir dan tidak ingat Allah swt. Imam Thabari ketika menafsirkan surat an-Nas menyampaikan perkataan Ibnu Abbas ra.

( الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ) قال: الشَّيْطَانُ جَاثَمَ عَلَى قَلْبِ اِبْنِ آدَمَ فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ فَإِذَا ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى خَنَّسَ

Setan itu mendekam pada hati manusia. Jika ia luput dan lalai, setan menggodanya. Jika ia mengingat Allah, setan akan bersembunyi.” .

Hati nurani manusia yang masih bersih dari orang yang taat kepada Allah, yang menjauhi syubhat dan selalu ingat kepada Allah selalu memberikan bisikan dan perkataan baik kepada orang tersebut, tidak membisikkan atau mengatkan yang buruk. Terutama ketika orang itu sedang menghadapi suatu perkara syubhat, antara halal dan haram yang sulit dibedakan dan antara kebaikan dan dosa, yang dalam kondisi seperti ini, hati nurani  akan memberikan arahan dan fatwa tepat yang mesti dipilih.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa” (HR. Ahmad no.17545, Al Albani dalam Shahih At Targhib [1734] mengatakan: “hasan li ghairihi“).

Itulah perbedaan antara bisikan setan dan perkataan hati, bisikan setan selalu membisikkan yang buruk dan hati yang suci selalu membisikkan yang baik. wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc