Selingkuh Dan Poligami

Lain-lain, 25 Agustus 2021

Pertanyaan:

Saya menikah sudah 8 tahun sekarang suami saya mau menikah lagi sebelum telah selingkuh dan selingkuhannya hamil sekarang mau menikah alasan poligami. dulu saya tidak mau di poligami makanya suami saya selingkuh biar bisa menikah lagi apa itu dibenarkan? Yang saya harapkan saya dibimbing lebih jauh dikasih pengertiaan tentang poligami lebih jauh. saya menyikapi semua ini haru bagaimana? 



-- Puspita Apriani (Depok)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarkatuhu.

Ada beberapa poin yang perlu kami tanggapi dan bahas :

  1. Poligami adalah syariat Allah yang diturunkan kepada manusia. Allah berfirman:

وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ

Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim (QS. Annisa :3)

 

Setiap syariat pasti membawa kebaikan bagi manusia dan untuk menjadi solusi untuk mengatasi  permasalahan mereka.

 

  1. Harus diakui bahwa tidak ada wanita yang suka dipoligami, hal itu dapat dimaklumi, karena rasa cemburu wanita terhadap wanita lain adalah fitrah, dan tidak ingin diduakan. Akan tetapi ketidak sukaannya untuk dipoligami itu tidak boleh menjadi alasan untuk membenci syariat poligami. Wanita harus bisa memisahkan rasa cemburunya dan sikapnya terhadap syariat Allah swt.

 

  1. Agar wanita bisa bersikap secara tepat terhadap syariat poligami dan tepat dalam mensikapi suami yang berpoligami, maka yang dibutuhkan adalah kesabaran. Sabar mensikapi suami yang berpoligami dan sabar melawan gejolak cemburu kepada wanita lain yang jadi madunya. Sabar inilah yang bisa mengubah emosi menjadi keikhlasan dan penerimaan terhadap syariat Allah swt, sehingga rasa cemburu itu tidak membuatnya bertindak yang melanggar hukum.

 

  1. Yang perlu sabar dalam poligami ini bukan hanya istri, tapi juga suami. Suami harus bersabar menghadapi istri yang cemburu, karena ada wanita lain yang berada disisi suaminya.

 

  1. Sabar adalah karakter sajati dan sikap yang menkjubkan bagi seorang mukmin ketika menghadapi kesusahan. rasulullah bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

 

  1. Seorang suami ketika ingin melakukan poligami, dan tidak mendapatkan restu dari istrinya, tidak seharusnya melakukan selingkuh dengan wanita lain, dengan tujuan agar istri terpaksa menerima keinginan suami untuk berpoligami. Poligami itu syariat yang ditetapkan Allah, seharusnya dijalani dengan proses yang baik, bukan melalui jalam maksiat. Tidak boleh melakukan ketaatan dengan proses kemaksiatan.

 

  1. Seorang laki-laki yang mau berpoligami hendaknya membekali ilmu yang cukup, tidak cukup hanya modal nekat dan hanya ingin gagah gagahan agar dia tidak celaka di dunia dan akhirat. Dia harus bersikap adil secara materi dan hal-hal yang bersifat lahiriah. Jika dia dia lebih condong pada salah satu istri-istrinya maka dia akan mendapatkan hukuman dari Allah yaitu pundaknya akan miring. Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ.

Barangsiapa memiliki dua isteri, kemudian ia lebih condong kepada salah satu dari keduanya, maka ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan pundaknya miring sebelah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Demikian beberapa poin yang bisa disampaikan semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab.(as)



-- Amin Syukroni, Lc