Pisah Atau Lanjut

Pernikahan & Keluarga, 10 September 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb. Saya perempuan usia 33 th. Sudah 8 th menikah dan memiliki dua anak. Saat ini saya sedang bimbang antara melanjutkan pernikahan atau bercerai saja. Saya merasa semakin kesini semakin tidak kuat menghadapi karakter suami saya yang mudah emosi dan mudah marah. Juga keseharian yang menurut saya sangat tidak pengertian. Saat ini suami saya tidak bekerja. Tanggung jawab sebagai pencari nafkah saya gantikan. Tetapi pekerjaan rumah tangga masih juga saya yang kerjakan. Suami hanya membantu mencuci baju dan menjaga anak saat saya bekerja. Pekerjaan rumah tangga yang lain hampir semuanya saya yg kerjakan.

Hal lain yang tidak saya sukai adl suami saya jika ingin sesuatu harus segera dipenuhi. Seolah-olah akan mati jika keinginan nya tidak terwujud. Meskipun untuk hal-hal sepele dan bukan kebutuhan pokok. Minggu lalu ia membeli sepatu bola dengan kartu kredit saya, hanya karena dibasa basi oleh temannya untuk ikut main bola. Padahal saat ini kondisi keuangan saya sedang sangat buruk. Bahkan saya sedang stres diam-diam memikirkan bagaimana caranya agar dapat bertahan sampai tanggal gajian saya akhir bulan nanti. Saya ingin dimengerti, disaat saya mengemban 100% kebutuhan ekonomi keluarga, setidaknya jangan menambah pengeluaran yang tidak perlu.

Suami saya juga seperti orang yang tidak punya tujuan hidup. Sehari-hari hanya menjalani saja apa yang terjadi. Tidak gigih bekerja, dan tidak ada keinginan sama sekali untuk memperbaiki keadaan hidupnya. Urusan rumah tangga juga tidak ada inisiatif nya bila tidak dimintai tolong, kadang sudah dimintai tolong pun tidak mau.

Sejujurnya saya lelah. Bukan karena masalah ekonomi. Saya lebih lelah pada perilakunya. Tolong bagaimana saya seharusnya. Sementara jika diajak berdiskusi dia selalu tidak bisa. Mudah salah mengerti, sulit menerima masukan dan tidak pernah merasa bersalah. Ia selalu lebih memilih mempersilahkan saya pergi dibanding introspeksi diri sendiri. Terimakasih untuk kesediaannya membaca dan memberi masukan untuk saya.



-- Vivi (Jakarta)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Kami memahami betapa berat beban keluarga yang harus anda pikul. Anda harus bekerja di luar rumah yang menguras waktu dan energi, sementara ketika anda kembali ke rumah masih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Tanggung jawab suami dan istri anda pikul sendiri. Belum lagi beban mental yang harus anda rasakan karena ulah suami anda yang kurang menyenangkan, semakin menambah beban mental.

Ada dua poin yang ingin kami tanggapi dari apa yang anda sampaikan:

  1. Masalah ekonomi dan kendali keluarga.

Memenuhi nafkah keluarga adalah tanggung jawab suami, dan segala urusan dalam rumah suami adalah tanggung jawab istri. Suami melakukan urusan luar dan istri melakukan urusan dalam, suami lelah mencari nafkah dan istri lelah mengatur nafkah dan urusan anak-anak di rumah. Rasulullah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika pembagian tugas ini dilanggar dan tidak dijalankan dengan baik, maka akan timbul masalah. Ketika seorang istri mengambil peran suami dalam mencari nafkah, bukan berarti suami bisa mengambil peran istri dalam menyelesaikan urusan rumah, karena hal itu bukan peran yang cocok bagi seorang laki-laki. Mungkin wanita lebih bisa melakukan dua hal sekaligus, yaitu mencari nafkah dan mengurus urusan rumah tangga sekaligus, karena wanita itu multi talenta. Tapi tidak demikian dengan pria. Dia hanya bisa baik dalam urusan luar rumah dan mencari nafkah, dia lemah dalam urusan detail-detail urusan dalam rumah.

Kami ingin menyampaikan saran. Upayakan agar suami anda kembali bekerja. Lihatlah sisi keunggulannya dan doronglah untuk menjadikannya sebagai jalan dan modal mencari nafkah. Ketika suami telah kembali bekerja dan kembali menjadi pengendali keluarga, insyaAllah dia tidak akan lagi menjadi sumber kejengkelan anda.

  1. Sikap yang bisa anda pilih.

Setiap orang akan mendapatkan ujian hidup dari Allah swt. Ujian itu bisa berupa kesenangan hidup maupun kesusahan hidup.Sikap seorang mukmin ketika ditimpa keburukan dia bersabar dan ketika mendapat kesenangan dia bersyukur. Itulah sikap sejati seorang mukmin. Rasulullah saw bersabda:

 عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya (HR. Muslim)

Sabar bisa menghadirkan bantuan Allah swt. Karena Allah akan bersama orang yang bersabar. Allah berfirman:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.S. Al Baqarah: 153)

Sabar juga akan mendatangkan keuntungan. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. al Imran:200)

Jika setelah anda berusaha untuk mengubah kondisi suami anda, tetapi tidak terjadi perubahan seperti yang anda harapkan dan anda memilih bersabar, maka insya Allah itu lebih baik untuk anda. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc