Tidak Mau Melayani Suami Setelah Diselingkuhi

Pernikahan & Keluarga, 12 September 2021

Pertanyaan:

Assalamualaykum. Mau bertanya, berdosakah saya untuk menolak berhubungan dengan suami, karena pernikahan kami sudah berjalan 15 thn, punya 3 anak, dan selama 5 thn belakang suami berselingkuh hingga lahir anak laki2. Dia sudah minta maaf meski saya sudah usir dia, tapi dia memohon maaf sampai menangis2 dan berjanji untuk meninggalkan perempuan itu. Akhirnya saya terima dia kembali dengan catatan saya tidak mau berhubungan suami istri dengan dia. Serasa jijik. Dia sudah pegang janjinya utk tidak kembali ke perempuan itu lagi (beda kota). Tapi dia terus meminta saya utk berhubungan, saya terus menolak. Alasan saya, kalau saya berhubungan dengan dia saya akan teringat dengan apa yang sudah dia perbuat dengan perempuan itu di belakang saya . Masih sakit sekali kalau ingat itu, kebohongan2 yang dia buat saat saya belum tahu. Saking sakitnya hingga saya sering menangis sendiri dalam shalat. Tapi saya takut dosa karena menolak itu.

Mohon dijawab ya, karena saya sudah tidak tau harus bertanya pada siapa, karena saya tidak mau aib ini didengar/diketahui oleh orang yang saya kenal. Terimakasih, wassalamualaykum.



-- Renny (Cimahi)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Kami cukup memahami apa yang sedang anda alami dan rasakan. Sakit hati dan kecewa serta takut dosa. Hal itu wajar saja dan sangat manusiawi. Semoga Allah swt segera mengangkat luka dan duka dari diri Anda.

Hukum asal istri menolak ajakan suami untuk berhubungan adalah haram. Rasulullah saw bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِىءَ لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang (baca: untuk berhubungan intim), lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh” (HR. Bukhari  dan Muslim ).

Ketika anda menerima suami anda kembali, maka anda juga harus mau menerima semua konsekwensinya. Yaitu berlakunya hak dan kewajiban suami-istri pada diri anda, antara lain kewajiban taat kepadanya dan melayaninya serta kewajiban-kewajiban lainnya.

Istri ibarat ladang bagi suami, dan dia berhak memperlakukan istrinya seperti yang dia kehendaki. Allah swt berfirman:

نِسَاۤؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman. (QS. Al Baqrah:223)

Catatan dan syarat yang anda berikan kepada suami untuk dapat menerimanya kembali berupa tidak melayaninya berhubungan adalah syarat yang batil dan tidak sah karena bertentangan dengan syariat. Melayani dan menerima ajakan suami untuk berhubungan badan adalah kewajiban istri dan hak suami yang harus diberikan kepadanya. Karena catatan atau syarat itu bertentangan dengan syariat, maka otomatis batal dan tidak berlaku.

Jika anda menerimanya kembali maka anda juga harus menerima seluruh haknya kembali. Anda dan suami kembali berkewajiban menegakkan hukum Allah swt yang berlaku dalam keluarga tanpa ada pengecualian. Berlatihlah untuk berdamai dengan masa lalu suami dan memaafkan seluruh kesalahnnya.

Tapi jika anda tidak sanggup menjalankan hukum Allah dalam keluarga dan tidak bisa memberikan hak suami maka ada jalan bagi anda yaitu melakukan gugatan cerai atau khulu’. Hal ini seperti peristiwa yang dialami istri Tsabit bin Qois, dimana dia tidak bisa bertahan dengan suaminya karena dia takut kufur kepada suaminya, tidak bisa melayani suaminya, bukan karena buruk akhlak dan agamanya.

 جَاءَتْ امرَأَةُ ثَابِت بْنِ قَيْس بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّه مَاأَنقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِيْنٍ وَلاَ خُلُقِ إِلاَّ أَنِّي أَخَافُ الْكُفْرَ فَقَالَ رَسُواللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرُدِّيْنَ عَلَيْهِ حَدِيقََتَهُ فَقَالَتْ نَعَمْ فَرَدَّتْ عَلَيْهِ وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا “

Isteri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata ; “Wahai Rasulullah, aku tidak membenci Tsabit dalam agama dan akhlaknya. Aku hanya takut kufur”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya?”. Ia menjawab, “Ya”, maka ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan Tsabit pun menceraikannya” (HR Al-Bukhari)

Bila seorang istri sudah tidak mampu menegakkan hukum Allah dalam keluarga, dia bisa mengajukan khulu’ atau gugatan cerai seperti yang dilakukan istri Tsabit bin Qois. Allah berfirman:

فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِ ۙ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيْمَا افْتَدَتْ بِهٖ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَعْتَدُوْهَا ۚوَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zalim. (QS. Al Baqrah:229)

setelah anda menerima penjelasan diatas, maka keputusan berpulang kepada Anda. Jika anda siap menanggung segala konsekwensi karena menerima kembali suami, maka terimalah dia tanpa catatan. Semoga hal itu menjadi kebaikan bagi anda dan suami dimasa yang akan datang. Tapi jika anda tidak lagi mampu menegakkan kewajiban kepada suami, maka pintu gugatan cerai atau khulu’ bisa menjadi alternatif terakhir. Semoga Allah menunjukkan anda jalan yang terbaik. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc