Orang Tua Menunda Pernikahan Karena Budaya

Pernikahan & Keluarga, 12 September 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr.Wb

Sebelumnya terima kasih sudah menyempatkan Waktu untuk membaca pesan Saya.

 

Saya minta tolong memberikan pandangan dalam Islam mengenai masalah Saya.

 

Saya berencana menikah th ini,

Harusnya dr Agustus lalu

Namun karena ada keluarga dr pihak calon suami yg meninggal jadi terpaksa diundur

Karena PPKM saat itu dalam level yg tinggi jg, namun saat ini saya kembali menanyakan ke org tua saya kapan bisa di langsungkan acaranya

Namun ayah saya tdk menyetujui th ini karena budaya yg ia pegang (harus menunggu/ganti tahun untuk melangsungkan pernikahan jika ada keluarga yg meninggal) dikarenakan akan ada musibah yg akan terjadi jika dilanggar.

Jadi beliau tidak merestui apabila acara dilangsungkan di th ini.

 

Akan tetapi saya sudah terlalu lama menunggu

Begitupula dgn keluarga calon suami yg sudah memohon untuk segera dilaksanakan, karena ayah dr calon saya sudah sering sakit2an

 

Bahkan lamaran kami bahkan sudah setahun lalu

Dan karena pandemi ayah saya minta mundur

Smp akhirnya ada keluarga yg meninggal.

 

Jujur, Saya ada alasan personal yg membuat saya sudah tidak nyaman berada di rumah

 

Salah satunya karena ayah saya beberapa th lalu sudah beberapa kali berbuat cabul ke saya, ya sungguh memalukan & menjijikkan

Tp saat itu saya tidak bisa melawan karena masih sekolah, dan alhamdulillah ibu Saya jg sudah saya ceritakan meskipun ia meminta untuk bersabar sampai saya keluar dr rumah.

Hal itu yg membuat batin saya tidak pernah tenang saat di rumah, terlebih saat hanya ada saya dan beliau (ayah).

 

Dan sampai kapanpun saya tdk bisa lupa, bahkan dia smp saat ini tidak pernah meminta maaf dan menganggap tidak ada apa2.

Terlepas itu ia jg bukan ayah kandung saya.

 

Kembali ke masalah pernikahan,

Ibu Saya sependapat dgn saya, namun beliau setiap membahas hal ini selalu selisih paham, bahkan sudah minta anggota keluarga lain untuk membujuk ia tetap mau dilaksanakan th depan.

 

Jika saya tetap melangsungkan pernikahan bagaimana hukumnya?

Apakah tetap sah?

Mengingat secara agama nanti saya menikah dgn wali.

Jika saya hanya memiliki restu dari Ibu (kandung) saya namun beliau tidak merestui bagaimana?

Saya mohon penjelasan dari sisi hukum agama bagaimana🙏



-- Tya (Jakarta)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Terkait dengan pertanyaan yang anda sampaikan, dapat kami sampaikan beberapa poin berikut:

  1. Kepercayaan adanya kesialan yang dikaitkan dengan suatu kejadian adalah termasuk salah satu perbuatan yang diharamkan dalam syariat. Seperti mempercayai adanya kesialan jika melakukan pernikahan ditahun yang sama dengan kematian salah satu anggota keluarga, mempercayai kesialan dengan keberadaan buruk gagak yang hinggap diatap rumah atau kesialan jika tetap pergi ketika ada ular melintas jalan dan lain sebagainya.

Kepercayaan seperti itu disebut thathoyyur. Kepercayaan seperti itu termasuk syirik. Rasulullah saw bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلاَثًا وَمَا مِنَّا إلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

 

Tathayyur (menganggap sesuatu sebagai sumber kesialan) adalah syirik. Tathayyur adalah syirik. Tiada seorang pun dari kita kecuali akan terpengaruh dengan tathayur. Namun Allah  melenyapkannya dengan tawakal “. (HR.Abû Dâwud)

لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ

Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220)

Seorang muslim tidak boleh mempercayai adanya kesialan karena waktu, tempat atau hal yang lain. Segala yang terjadi di dunia ini karena telah dikehendaki Allah. Bukan karena ulah manusia atau yang lainnya. Allah swt berfirman:


مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. At-Thaghabun:11)

Abaikan kepercayaan syirik seperti itu dan melangkahlah dengan tawakkal kepada Allah swt.

  1. Menikah itu adalah perbuatan baik. karena itu harus disegerakan pelaksanaanya. Mengundur waktu hanya akan memberi peluang setan untuk menggoda manusia lebih panjang. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Dari Abdullah bin Umar radliallahu 'anhuma dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memegang pundakku dan bersabda: 'Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara." Ibnu Umar juga berkata; 'Bila kamu berada di sore hari, maka janganlah kamu menunggu datangnya waktu pagi, dan bila kamu berada di pagi hari, maka janganlah menunggu waktu sore, pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu. (HR. Bukhari)

  1. Restu ayah tiri tidak menjadi syarat dan rukun sahnya pernikahan. Jika anda menikah tanpa restu ayah tiri, pernikahan itu sah secara agama. Ayah tiri secara agama tidak memiliki hak mengatur dan menentukan pernikahan anda. Dia dalam hal ini adalah orang lain, meskipun secara sosial perlu diperlakukan dengan baik. Wali andalah yang berhak menentukan pernikahan anda.
  2. Perlakukan ayah tiri anda dengan baik sesuai dengan norma agama yang ada dan taatilah kehendaknya selama tidak melanggar hukum Allah swt.

Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc