Konsultasi Rumah Tangga

Pernikahan & Keluarga, 13 September 2021

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum, ustadz/ustadzah. Saya adalah seorang istri berusia 25 tahun dan suami berumur 26 tahun. Kami menikah pada bulan Juni lalu. Saat ini saya tinggal di rumah mertua. Antara mertua dan kami beda rumah, hanya saja saling berhadapan. 

Selama tiga bulan menikah saya merasa tidak bahagia karena hidup di rumah mertua dengan alasan:

1. Tidak bebas, merasa diawasi

2. Terkadang bapak mertua masuk tanpa izin (privasi)

3. Sering terjadi banjir dan jalan macet

4. Jauh dari tempat kerja

5. Saya ingin mandiri

Dosakah saya apabila meminta pindah dari rumah mertua karena saya ingin pindah di lingkungan yang lebih aman? Saya sudah berkonsultasi dengan suami, namun suami berat meninggalkan kedua orang tuanya. 

Saya tidak keberatan jika suami tinggal bersama kedua orang tuanya dan berbakti kepada mereka. Hanya saja, saya ingin membina rumah tangga tanpa bergantung pada mertua dan mencari tempat tinggal yang aman dari banjir. Jazakumullahu khair. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



-- Hamba Allah (Semarang)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Alhamdulillah anda dimudahkan Allah menyempurnakan setengah dari agama, yaitu menikah. Anda diberikan anugerah suami yang bertanggung jawab, mertua yang baik dan rumah untuk anda dan suami, sehingga tidak perlu tinggal bersama mertua atau orang tua.

Ada ucapan selamat yang diberikan kepada pengantin saat acara pernikahan, yaitu :”selamat menempuh hidup baru”. Atau doa keberkahan: “Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.

Dibalik ucapan selamat itu ada filosofi yang ingin disampaikan. Pengantin baru akan memasuki dunia baru, keluarga baru,pendamping baru, tempat tinggal baru, lingkungan baru, kebiasaan baru dan seterusnya. Segala yang baru tidak semua menyenangkan awalnya, ada kecanggungan disana, ada ketidak nyamanan dan seterusnya, sehingga memerlukan adaptasi beberapa bulan kedepan, bahkan mungkin adaptasi sampai beberapa tahun untuk membuat semua terasa nyaman.

Jadi apa yang anda rasakan sekarang ini adalah wajar dialami semua pengantin baru. Tapi dengan berjalannya waktu akan didapatkan kenyamanan dan kecocokan.

Menanggapi apa yang anda sampaikan, ada beberapa saran yang bisa kami sampaikan:

  1. Sadarilah bahwa menjalani yang baru dan melakukan langkah pertama itu berat dan memerlukan energy lebih. Bukan hanya dirasakan oleh manusia, mesinpun juga demikian. Sepeda motor pada awal berjalan terasa lamban dan berat langkahnya, tapi jika telah berjalan akan lancar dan tidak terasa bebannya. Karena itu siapkan energy lebih besar menjalani pernikahan yang baru ini agar anda meraih kebahagiaan dan kemudahan di kemudian hari.
  2. Bersyukur dan menerima dengan senang dan perasaan positif atas perhatian mertua, rumah yang disediakan suami dan fasilitas lain adalah lebih baik daripada berharap dan mengangankan yang belum ada dan baru menjadi keinginan. Ibarat, lebih telur hari ini lebih baik daripada ayam esuk hari, telur sudah pasti sementara ayam belum tentu ada esuk hari.

Rasa syukur itu menenangkan dan mengundang datangnya nikmat baru. Kufur nikmat itu mengundang datangnya adzab. Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim:7)

  1. Mertua yang baru punya mantu baru sangat perhatian dengan mantunya, perhatian ini terkadang disalah artikan oleh menantu. Perasaan diawasi, dipantau dan dicampuri urusannya dan lian-lain. Perasaan seperti itu abaikan saja dan sikapilah dengan positif. Karena sangat perhatian dan sayangnya sama menantu dan telah dianggapnya sebagai anak sendiri maka dia akan masuk ke rumah menantunya seperti masuk ke rumah anak sendiri. Baginya hal itu wajar saja.
  2. Kesulitan dan keluhan sebagai dampak pernikahan karena tidak sesuai dengan keinginan adalah wajar, yang dibutuhkan adalah sabar sejenak untuk mendapat kebaikan lebih.
  3. Berbakti kepada orang tua adalah wajib bagi seorang laki-laki meskipun telah menikah. Surganya seorang laki-laki itu di tangan orang tuanya. Hal itu berbeda dengan seorang wanita,jika telah menikah, maka ketaatan untuk suaminya, dan surga seorangnya juga di tangan suami. Rasulullah bersabda:

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ، أَحَدُ هُمَا أَوكِلَيْهِمَا، فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” (HR. Muslim)

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban )

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya; “Wahai Rasulullah, wanita yang bagaimana yang paling baik?” maka Beliau menjawab: “Wanita yang menyenangkan hati jika dilihat (suami), taat jika diperintah dan tidak menyelisihi pada sesuatu yang ia benci terjadi pada dirinya (istri) dan harta suaminya.” (HR. Ahmad)

6. Dan seorang istri harus tinggal di tempat tinggal yang disediakan oleh suaminya. Allah berfirman:


اَسْكِنُوْهُنَّ مِنْ حَیْثُ سَكَنْتُمْ مِّنْ وُّجْدِكُمْ…

Artinya “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu (suami) bertempat tinggal menurut kemampuan kamu,…” (QS. Ath Thalaaq: 6).

Demikian yang bisa disampaikan semoga bermanfaat. Wallahua’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc