Keraguan

Pernikahan & Keluarga, 2 Oktober 2021

Pertanyaan:

Bismillah Assalammualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.. ustadz. Mau konsultasi ttg fiqih rmh tangga. Pas baca artikel ttg masalah perceraian, seorg suami baru tahu bahwa ternyata kata2 cerai kalau di ucapkan (shorih) walau pun sendirian (tidak ada org lain dengar) itu juga menjatuhkan talak. Karena baca itu, timbul khawatir di hatinya, apakah dulu2 (beberapa tahun lalu sering bertengkar besar dg istrinya), setelah bertengkar biasanya dia menghindar, saat sendiri, khawatir kalau2 ada ngedumel di mulut nyebut cerai (shorih). Namun dia tdk dpt mengingat utk memastikan ada atau tidak nya nyebut cerai (shorih) tsb ustadz (sangat ragu),tanpa ada keyakinan ngucapkan. bisa juga hanya lintasan di fikiran atau dalam hati. Dia tdk tahu pastinya. Jadi saat ini dia jadi kefikiran ustadz. Jadi gimane ya ustadz, apakah jatuh talak ya? Gimana ngambil kesimpulan didalam kejadian yg tdk pasti atau ragu2 spt itu ustadz? (Saat itu dia belum tahu hukum ngomong cerai disaat sendiri tsb). Mohon pencerahan dr ustadz. Syukron



-- Mulyadi (Pontianak)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Talak artinya melepaskan ikatan pernikahan. Seorang suami melepaskan ikatan pernikahan dengan istrinya sehingga keduanya tidak lagi memiliki ikatan pernikahan.

Talak bisa dilakukan suami dengan mengatakan lafadz yang shorih atau jelas, seperti perkataan suami kepada istrinya:” aku talak engkau”. Maupun dengan lafadz kinayah atau sindiran dengan maksud menceraikan, seperti perkataan suami kepada istrinya:” kamu pulang saja ke rumah ibumu”.

Lafadz talak itu harus diucapkan atau disampaikan oleh suami kepada istrinya, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti dengan mengirim surat atau mengirim utusan. Adapun jika dia mengucapkan lafadz talak, tapi tidak ditujukan kepada istrinya, tapi hanya sekedar ungkapan rasa mangkel atau marah semata, maka hal itu tidak langsung jatuh talak. Seperti seorang suami, karena bertengkar dengan istrinya, kemudian dia marah dan meninggalkan istrinya sendirian dan pergi ke tempat yang jauh, lalu dia di tempat itu dia berteriak-teriak sendirian mengucapkan kata talak, maka tindakan itu tidak menjatuhkan talak, kecuali kalimat itu disampaikan kembali oleh suaminya kepada istrinya, bahwa dia telah mentalaknya.

Adapun terkait peristiwa yang diragukan kepastiannya, maka tidak bisa diberikan hukumnya sampai ada kepastian atau keyakinan terkait peristiwa itu. Jika masih ada keraguan, maka harus ditinggalkan sesuatu yang meragukan tersebut menuju ke hal yang meyakinkan. Rasulullah bersabda:

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ.(وَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ، وَقاَلَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

(.

 Tinggalkanlah yang meragukanmu lalu ambillah yang tidak meragukanmu.’” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)  

Jika tidak bisa dipastikan atau diyakinkan apakah telah jatuh talak atau tidak, maka harus dikembalikan kepada kondisi asal. Yaitu asal suami dan istri itu tidak terjadi talak, tapi asal suami itu bersatu dalam ikatan pernikahan. Hal itu sesuai dengan kaidah fikih:

اْلأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ, وَالْيَقِيْنُ لاَ يَزُوْلُ بِالشَّكِّ

Hukum Asal Segala Sesuatu Adalah Tetap Dalam Keadaannya Semula, Dan Keyakinan Tidak Bisa Hilang Karena Keraguan.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc