Pernikahan Terasa Hampa

Pernikahan & Keluarga, 3 Oktober 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad

Saya sudah menikah 6 tahun dan belum di karunia anak. saya merasa selama pernikahan kurang bahagia, bahkan di tahun pernikah saya sudah merasa tidak bahagia tapi saya mencoba bertahan dan mengganggap seiring berjalan nya waktu akan baik2 saja.tapi semakin kesini saya merasa semakin hampa dan merasa sendiri.

Suami saya pada dasarnya baik, tapi dia selaly cuek sama saya. Kita sma2 bekerja , bahkan saat saya ada masalah dlm pekerjaan saya tidak pernah cerita karna setiap saya cerita selalu di cuekin dan paling di komen dngan kata2 yg buat saya sakit hati. Suami saya hobby main game dan itu yg merasa saya semakin di abaikan. Bahkan suami tidak pernah menjalankan sholat dan tidak peduli dngan tetangga

Udah 1 bulan ini kami pisah kamar, setiap kami bertengkar suami selalu bilang pisah dan pisah saya diam saja tapi itu membuat saya semakin jenuh dan tudak peduli lagi dengan dia

Semakin hari rasa sayang sudah mulai terkikis dngan sikap dia , mencoba untuk menguatkan hati bahwa itu akan baik2 saja.tetapi hati saya selalu menolak bahkan saya sudah tidak mempedulikan kebutuhan dia seperti makan pakaian dll istilahnya kami tinggal dlm 1 atap tapi menjalankan kegiatan masing2

Mohon maaf bahkan berhubungan intim pun saya sudah tidak bergairah dngan suami

Sudah mencoba berbicara dngan suami, tapi tanggapan selalu sama dan terkesan menyalahkan saya

Ustad apa yg harus saya lakukan, apakah saya harus berpisah atau mempertahankan nya?

Sedangkan hati dan perasaan saya sudah kosong

 



-- Rara (Jakarta)

Jawaban:

Wa alaukum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Salah satu tujuan pernikahan adalah mendapat kehidupan yang tenang, tentram dan bahagia. Kebahagiaan dan ketentraman hati harus diupayakan untuk diwujudkan secara bersama-sama. Suami berusaha memberi kebahagiaan dan istri juga memberi kebahagiaan, keduanya bersama-sama saling memberi, tidak hanya menerima.

Untuk bisa saling memberi, harus ada yang memulai. Anda sebagai istri bisa mengawali memberi kebahagiaan dengan cara yang mudah dan murah, yaitu anda memulai mengajaknya ngobrol hal-hal ringan tentang tema keseharian, jangan mengobrolkan masalah pekerjaan dan jangan membawa masalah pekerjaan ke rumah. Mengobrolkan tentang hobi, tentang masa depan, tentang rencana berlibur, tentang kondisi masa kini dan lain-lain yang ringan untuk dibicarakan dan tidak menimbulkan konflik. Nikmati hari-hari dengan kesantaian dan rileks saja. Semoga dari situ anda dan suami bisa mendapatkan kebahagiaan dan segera dianugrahi keturunan.

Jika anda mendapati suami anda cuek, tidak peduli tetangga dan lebih suka main game dan lain-lain. Hendaknya hal itu tidak dijadikan kendala untuk terus memupuk rasa cinta dan upaya meraih kebahagiaan. Betapa banyak laki-laki yang memiliki tipe seperti itu, tapi tidak menjadi alasan untuk berpisah, karena dia dapat melihat sisi kebaikan dari sang suami. Bisa jadi keenggan dia keluar rumah menjadi kebaikannya, sehingga dia tidak keluar rumah dan mencari kebahagiaan dengan wanita lain. Melihat sisi positif pasangan mampu menghadirkan rasa syukur, dan rasa syukur dapat menghadirkan rasa bahagia. Melihat sisi positif pasangan mampu menutupi kekurangannya. Ingatlah bahwa semua orang punya sisi positif dan negatif. Fokuslah pada sisi positifnya. Rasa syukur menambah nikmat, mengabaikan nikmat menghilangkan nikmat. Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. Ibrahim :7)

Ketika anda dan suami sedang tidak baik-baik saja, seharusnya harus ada upaya bersama untuk menyelesaikannya. Upaya bersama itu bisa terwujud dengan baik jika anda dan suami sama-sama merasakan adanya masalah dan ketikak beresan dalam keluarga. Jika hanya anda yang merasakannya dan suami menganggap tidak ada masalah serius ,maka usaha anda akan sia-sia, minimal hasilnya tidak akan sesuai dengan harapan, ibarat kata”bertepuk sebelah tangan”. Pastikan suami anda merasakan seperti yang anda rasakan. Oleh sebab itu ajaklah suami anda mendiskusikan apa yang sedang anda rasakan, jangan sampai anda merasa seakan-akan hampir mati, tapi suami anda masih merasa baik-baik saja. Masalah keluarga adalah masalah bersama, maka penyelesaiannya juga harus secara bersama-sama pula. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc