Talak

Pernikahan & Keluarga, 4 Oktober 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad..saya mau bertanya

Saya istri kedua..1 thun yg lalu istri pertama mendatangi rmh saya dalam keadaan mrah besar, saat itu dia tdk terima klo sya menikah sm suami nya..singkt cerita dia dtng lngsung mrah2 lalu menarik rambut sya dan menghancurkan smua brang2 saya..lalu dia memaksa suami saya utk menceraikn saya dn mengancam akan mempermalukan suami saya di kntor tmpt suami  bekerja, kebetulan suami anggota polri dn saat itu istri pertama dn suami bertengkar hebat dan istri pertama mencakar2 suami sya..karna suami dalam keadaan tertekan dn terpaksa suami menceraikan saya tp sya tdk mendengr ucapan cerai suami, karna mengucapkan nya melalui telpon..apakah sah ucapan cerai suami saya krna di paksa istri pertama sedangkn suami tdak berniat menceraikn saya



-- Tari (Palembang)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Amal dan perbuatan manusia bernilai dan sah jika dilakukan berdasarkan pada niatnya, kesadarannya dan pilihannya sendiri. Rasululullah saw bersabda:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Disamping niat sebagai penentu amal, seorang yang melakukan suatu perbuatan harus atas dasar keinginan dan kesadaran sendiri. Jika orang dipaksa melakukan sesuatu maka apa yang dilakukannya tidak teranggap. Rasulullah saw bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَال: «إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي: الخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ» حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُمَا.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa, dan dipaksa.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqi )

Bahkan orang yang berkata kufur sekalipun jika dia dipaksa mengatakannya, maka perkataannya itu tidak dianggap dosa dan kata-katanya tidak dianggap salah. Allah berfirman

مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَىِٕنٌّۢ بِالْاِيْمَانِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar. (QS. An Nahl:106)

Maka jika suami anda benar-benar terpaksa mentalak anda, bukan karena keinginan dia sendiri, maka talaknya tidak sah. Anda masih tetap menjadi istri yang sah secara agama. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc