Menyadarkan Suami

Pernikahan & Keluarga, 12 November 2021

Pertanyaan:

assalamualaikum , Nama sy icha usia 32 menikah dng duda anak 1. Sy mau konsultasi bagaimana cara menghadapi sikap suami yg egois, selama ini suami lbh suka menghabiskan waktu di rumah org tuanya dng alasan ortu nya tdk ada yg menjaga padahal kakak perempuannya tinggal dekat sekali dng ibunya , suaami kalau bekerja ung selalu di berikan kepada ibunya, saya cuma di kasih pas inget aja . Sekarang suami tidak bekerja dan kecanduan main game online sampai" Ambil pinjaman online tanpa sepengetahuan saya . Suami juga lebih membela teman teman nya dari pada saya . Suami jg malas bangun pagi dan beribadah. Haruskah saya menceraikan suami seperti itu .?? 

 

Terimakasih 

 

Wassalamualaikum . 



-- Icha (Madiun)

Jawaban:

Wa alaikum salam warah matullahi wabarakatuhu.

Egois adalah sikap semau sendiri dan ingin menang sendiri. Kepentingan dirinya lebih didahulukan daripada orang lain. Sikap seperti ini tentu tidak bisa dibawa pada kehidupan berkeluarga. Kehidupan keluarga memerlukan sikap mau berbagi. Untuk bisa saling berbagi harus mau saling mengerti. Agar saling mengerti diperlukan sikap saling mengenal.

Kehidupan suami dan istri akan baik jika rukun berkeluarga dipenuhi. Rukun berkeluarga itu ada empat:

  1. Saling mengenal. Suami dan istri harus saling mengenal satu sama lain. Mengenal dan mengetahui sifat, kebiasaan, pekerjaan, latar belakang keluarga, hoby, hal yang disenangi dan dibenci dan lain-lain. Pengenalan suami kepada istrinya harus baik dan menyeluruh. Pengenalan istri kepada suami juga harus baik dan utuh. Pengengenalan keduanya harus sama baik dan utuh. Jika hanya satu sisi yang mengenal maka akan terjadi kesalah pahaman.

Suami harus tahu bahwa istrinya membutuhkan waktu bersamanya dan tidak suka dengan perbuatan buruknya seperti main game online, berhutang dan tidak shalat dan lain-lain. Istri harus memberitahu semua hal yang menjadi keluhannya.

  1. Saling memahami. Jika suami dan istri saling mengenal dengan perkenalan yang baik, maka mereka akan mudah saling memahami. Memahami alasan dan sebab melakukan ini dan itu atau tidak melakukan ini dan itu.
  2. Saling membantu. Karena suami dan istri sudah saling mengenal,  mereka akan saling memahami, dan jika keduanya sudah saling memahami maka keduanya akan saling mebantu satu sama lain.
  3. Saling menanggung. Keduanya sudah seperti satu tubuh. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Selain empat rukun diatas diupayakan untuk dilakukan dan dipenuhi, maka memberi nasehat agar dia menyadari kesalahannya harus diberikan kepadanya. Jika anda tidak bisa menasehati langsung, maka anda bisa meminta orang lain untuk menaseharinya.

Itulah tahapan yang harus anda upayakan untuk memperbaiki kondisi keluarga anda sebelum anda memutuskan untuk bercerai. Bercerai harus dijadikan solusi terakhir untuk mengatasi masalah keluarga.

Demikian yang bisa disampaikan semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc