Talak

Pernikahan & Keluarga, 17 November 2021

Pertanyaan:

Asw, pak/b udztad, mohon maaf sebelumnya, saya ingin bertanya, sempat beradu argumen dengan istri saya, bahkan beberapa kali saya pisah ranjang karena tidak tahan dengan pertengkaran yang ada, tapi beberapa hari kami sudah baikan, namun ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan :

1. sempat saya bercanda dengan orang lain jika saya masi jomblo, apakah ini termasuk talak?

2. Saya pernah membaca jika ada bahasa sindiran mengenai cerai yang keluar dari mulut suami termasuk TALAK tpi jika keadaan emosi tidak di kategorikan TALAK

3. Bgn solusi jika hal ini termasuk TALAK, terima kasih

 

 

 



-- Asta (Sabu, NTT)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Dalam pergaulan sehari-hari sering kita mendapati suasana yang mendorong kita untuk bercanda. Tujuan bercanda itu hanya untuk mencairkan suasana dan menjalin keakraban dalam pergaulan. Seperti seorang berkata kepada temannya dengan nada bercanda. “ saya masih jomblo, hehehe..”atau perkataan yang sejenis banyak terjadi dalam pergaulan sehari-hari. Perkataan sesesorang yang sudah beristri “saya jomblo” tidak termasuk lafadz talak.

Talak terjadi karena adanya niat dari seorang suami untuk mentalak istrinya, baik dengan lafadz sharih/tegas seperti perkataan suami kepada istrinya:”saya talak/cerai kamu”.atau lafadz kinayah/sindiran atau lafadz tidak tegas dan jelas sehingga bisa difahami talak atau bukan talak,seperti perkataan suami kepada istrinya :”pulang saja ke rumah ibumu”.

Talak dengan lafadz sharih langsung jatuh talak. Sementara talak dengan lafadz kinayah tidak langsung jatuh talak. harus diklarifikasi atau ditanyakan terlebih dahulu niatnya. Jika niatnya talak,maka jatuh talak. jika niatnya atau maksudnya bukan talak, maka tidak jatuh talak.

Adapun talak dalam keadaan marah,maka harus dilihat dahulu tingkat kemarahannya. Marah itu ada tiga kondisi:

  1. Marah yang menghilangkan kesadaran, sehingga pelaku tidak sadar dengan apa yang dilakukan dan diucapkannya, tidak mampu mengendalikan emosinya. Maka talak seperti ini tidak sah. Barangkali talak ketiga masuk kategori ini. Dimana pelaku kalap dan melakukan tindakan yang tidak wajar seperti membanting HP ,meninju tembok dan pintu dst. Rasulullah bersabda:

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

 ﻻَ ﻃَﻼَﻕَ ﻭَﻻَ ﻋِﺘَﺎﻕَ ﻓِﻲْ ﺇِﻏْﻼَﻕٍ

Tidak ada Talak dan membebaskan budak dalam keadaan (hati/akal) tertutup” (HR Abu Dawud, Ahmad,Ibnu Majah dan Hakim)

Ibnul Qayyim menjelaskan maksud hadits “tertutup akal” salah satu maknanya adalah ketika marah.

  1. Marah yang pelakunya masih memiliki kemampuan diri untuk mengendalikan emosinya, sehingga menyadari apa yang dilakukannya, maka talaknya sah.
  2. Marah yang pelakunya tidak kehilangan penuh kesadarannya, maka dia harus ditanya atau diklarifikasi niat dan maksud dari ucapannya. Jika dia menjawab berniat talak, maka jatuh talak, jika berniat yang lain maka tidak jatuh talak.

Jika telah jatuh talak. maka diperbolehkan rujuk jika talaknya talak satu atau talak dua . jika talaknya talak tiga maka tidak boleh rujuk dengan istrinya kecuali dia telah menikah dengan orang orang lain.Wallahu alam (as)



-- Amin Syukroni, Lc