Suami Suka Berbohong

Pernikahan & Keluarga, 19 November 2021

Pertanyaan:

Assalamu'alaykum pak ustadz/bu ustadzah. Saya berumah tangga sudah 10 tahun. Ditahun ke 5 saya mendapati suami memiliki handphone lain yang disembunyikan dari saya. Sudah pasti isinya hal2 yg tidak baik. Kemudian saya bertengkar pada saat itu. Namun karena alasan masih ingin mencoba mempertahankan rumah tangga saya, kami kembali berbaikan. 

Tetapi kebohongan-kebohongan lain tetap saja dilakukan. Kebohongan walaupun kecil tetap saja namanya bohong dan tidak baik. Hal itu membuat saya overthinking tentang suami. Membuat saya menjadi curiga setiap hari dan itu melelahkan. Saya jadi tidak bisa membedakan mana perkataan benar dan bohong. Saya kehilangan kepercayaan terhadap suami. 

Adakah cara agar saya bisa membangun kepercayaan terhadap suami saya lagi?

 



-- Rayi (Jakarta)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Kami memahami jika anda merasa marah, curiga dan overthinking kepada suami anda disebabkan masalah yang terjadi lima tahun lalu. Dimana suami anda memiliki HP yang lain selain yang biasa dia pakai. Hal itu membuat anda terus curiga dengan suami anda.

Masalah yang terjadi lima tahun lalu jika segera diselesaikan tentu akan melegakan hati dan tidak akan menambah ketidak percayaan anda kepada suami. Tapi kerena tidak ada penyelesaian yang baik, maka anda jadi sangat sensitif dengan kebohongan suami anda. kebohongan yang kecilpun terasa besar dan menyakitkan. Dan sikap benar dan jujur dari suamipun anda anggap bohong.

Rasa curiga yang melelahkan itu, sebagai akibat sikap anda sendiri yang terus menerus memupuk kecurigaan pada setiap tindakan suami anda,sehingga anda tidak lagi bisa membedakan mana perkataan dan sikap jujur dan bohong. Rasa curiga yang berlebihan hingga melelahkan jiwa dan pikiran anda itu tidak akan hilang jika anda sendiri tidak mengubah sikap anda. yaitu sikap curiga diganti dengan sikap percaya dan rilek terhadap suami.

Berikut beberapa hal yang bisa anda coba anda lakukan untuk menghilangkan rasa curiga itu:

  1. Hidup ini pilihan. Anda mau memilih bahagia atau sengsara. Anda memilih percaya atau curiga. Setiap pilihan ada konsekwensinya. Jika anda ingin bahagia, maka abaikan hal yang membuat anda sedih yang berkepanjangan. Jika anda memilih percaya, maka anda harus mengabaikan dan memaafkan kesalahan-kesalahan atau kebohongan kecil yang pernah anda alami. Mengingat rasa curiga dan memeliharanya hanya akan mempertebal dan memperbanyak rasa curiga. Sejak sekarang bertekadlah untuk memilih bahagia dan percaya kepada suami. Bismillah, anda pasti bisa.
  2. Anda telah hidup bersama suami sepuluh tahun. Pasti ada kebohongan yang dilakukan suami dan ada kejujuran yang dilakukannya. Coba bandingkan kejujuran dan kebohongan yang dilakukannya. Kami yakin kejujurannya akan lebih banyak daripada kebohongannya. Pikiran dan perasaan anda lebih dipenuhi kecurigaan daripada sikap percaya. Orang yang tidak bisa melihat kebaikan orang lain yang banyak karena kesalahan yang sedikit adalah orang yang sakit. Karena itu fokuslah pada kejujurannya daripada kebohongannya. Karena semua kita juga pernah berbohong. Jika sikap saling curiga menjadi sikap keseharian suami dan istri, maka kehidupan keluarga itu sedang sakit. Lihatlah sisi kebaikan dan kejujurannya maka akan tertutupi kekurangan dan kebohongannya. Dengan demikian anada akan lebih tenang dan bahagia.
  3. Pada asalnya sikap dasar manusia itu jujur. Dan atas dasar sikap dasar itu kita mempercayai orang lain dalam pergaulan kita sehari-hari. kita baru mengatakan orang itu berbohong pada satu perkara-bukan pada semua perkara-ketika kita mendapati bukti nyata orang itu berbohong. Kata-katanya tidak sesuai dengan kenyataanya.

Karena itu selama anda tidak mendapai bukti nyata bahwa suami anda berbohong, maka sikap percaya kepadanya harus menjadi sikap dasar anda kepadanya. Manusia hanya diminta menghukumi apa yang dhahir dan nyata saja, sementara apa yang tidak kelihatan dan tidak nyata diserahkan urusannya kepada Allah.

Lihatlah kebaikan dan kejujurannya daripada melihat kebohongannya. Kita harus menghukumi berdasarkan apa yang dhahir, sementara yang batin atau tersembunyi kita serahkan kepada Allah. Karena itu Rasulullah marah kepada sahabat Usamah bin Zaid yang membunuh orang yang telah mengucapkan laa ilaaha illa allah yang diduga dia mengucapkan kalimat hanya karena takut dibunuh.

« أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ « أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ ». فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ

“Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga aku berharap seandainya aku masuk Islam hari itu saja.” (HR. Muslim)

Karena itu jangan perturutkan rasa curiga anda, karena hal itu sangat melelahkan pikiran dan perasaan. Selama tidak ada bukti berbohong, percayailah suami anda. Selama tidak ada bukti nyata maka abaikan saja rasa curiga itu.  Jangan berusaha mencari-cari kesalahan dan kepo dengan yang suami anda lakukan. Bangun sikap saling percaya dimulai dari diri sendiri.

  1. Satu kesimpulan yang salah dan menyesatkan pikiran adalah kesimpulan:”jika orang pernah sekali berbohong, maka dia selamanya akan menjadi pembohong”. Kesimpulan ini jelas keliru. Sebab tidak semua orang begitu. Dan bisa jadi orang berbohong memiliki alasan dan sebab tertentu, yang jika sebab itu disampaikan atau diketahui orang lain akan membahayakan orang lain itu atau membahayakan dirinya sendiri.
  2. Setiap orang akan berubah dan tidak tetap. Peristiwa dan kejadian sehari-hari bisa mengubah sikap seseorang menjadi lebih dewasa dan lebih baik. Suami anda lima tahun yang lalu pasti berbeda dengan suami anda sekarang. Dia juga pasti belajar memperbaiki diri dan memperbaiki sikapnya kepada anda. Andapun juga pasti tidak sama dengan anda lima tahun yang lalu. Anda lebih dewasa dan lebih bijak dalam mensikap masalah. Konsultasi yang anda sampaikan ini menunjukkan bahwa anda terus berusaha lebih baik. lanjutkan usaha anda untuk menjadi lebih baik. Allah akan membantu anda.

Demikian yang bisa disampaikan semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc