Kewajiban Orangtua Mendampingi/Menjaga Anak Yang Sudah Dewasa

Pernikahan & Keluarga, 22 November 2021

Pertanyaan:

Assalamulaikum

Keluarga saya  tinggal di kota "B" , Anak saya I (Perempuan) berumur 26 tahun kuliah semester 8, Anak II (laki-laki) berumur 23 tahun kuliah semeater 7, Anak III (Perempuan) berumur 20 tahun kulia semester 1,  semua mereka kuliah di kota "B" dan tinggal di rumah sendiri

Setelah hampir 2 tahun ini saya meratau ke kota "B" untuk menjemput Rezeki, akan tetapi istri tidak mau ikut dengan saya ke kota "B", alasannya syariat islam, bahwa harus mendampingi/menjaga anak perempuan sampai dia menikah di kota "A" tersebut

Mohon pecerahannya untuk hal ini



-- Saiful Amri (Bukittinggi)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Alhamdulillah Allah anugerahkan kepada anda putra dan putri yang sudah dewasa dan sudah duduk di bangku kuliah. Mereka bukan lagi anak-anak yang perlu pendampingan khusus dan perawatan khusus. Dengan usianya diatas dua puluh tahun semestinya mereka telah mandiri dan mampu untuk mengurus urusan pribadinya masing-masing.

Mendidik, merawat dan mendampingi anak dibutuhkan ketika anak-anak belum akil baligh dan belum dewasa. Ketika mereka telah dewasa tentu mereka memiliki tanggung jawab sendiri kepada Allah dan kepada sesama. Mereka bukan lagi anak kecil lagi. Karena itu jika mereka bertiga tinggal satu rumah tanpa ayah dan ibunya mereka pasti bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.

Memang orang tua wajib mengawasi mereka dan mendidiknya. Akan tetapi hal itu bisa dilakukan dari jarak jauh atau dari luar kota. Apalagi dengan mudahnya berkomunikasi, tugas orang tua mendampingi mereka tetap bisa dilakukan.

Kewajiban seorang istri itu taat kepada suaminya, jika dia memintanya ikut bersamanya, maka harus didahulukan daripada menemani anak-anaknya yang telah dewasa. Meninggalkan anak-anak tanpa orang tua bisa menjadi sarana mendewasakan mereka.

Terkait kewajiban istri untuk taat dan nurut dengan keinginan suami, Rasulullah saw bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya (HR. Tirmidzi)

Dan Rasulullah juga bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban )

Dalam hadits lain dikatakan:

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya; “Wahai Rasulullah, wanita yang bagaimana yang paling baik?” maka Beliau menjawab: “Wanita yang menyenangkan hati jika dilihat (suami), taat jika diperintah dan tidak menyelisihi pada sesuatu yang ia benci terjadi pada dirinya (istri) dan harta suaminya.” (HR. Ahmad)

Dan seorang istri harus mau tinggal di tempat tinggal yang disediakan oleh suaminya. Karena itu jika suami mengajaknya tinggal bersamanya di tempat barunya, dia tidak boleh menolak. Allah berfirman:


اَسْكِنُوْهُنَّ مِنْ حَیْثُ سَكَنْتُمْ مِّنْ وُّجْدِكُمْ…

Artinya “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu (suami) bertempat tinggal menurut kemampuan kamu,…” (QS. Ath Thalaaq: 6).

Demikian yang bisa disampaikan semoga bermanfaat. Wallahua’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc