Perjanjian Dalam Masa Pacaran

Pernikahan & Keluarga, 28 November 2021

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum ustadz, saya mau bertanya, bagaimana perjanjian dalam masa pacaran yang sekarang ini sudah tidak berhubungan lagi?, Saya mohon dengan sangat untuk penjelasannya mengenai pertanyaan yang saya ajukan dan mohon untuk tidak ditampilkan di website ini, terimakasih dan mohon maaf jika ada perkataan saya yang tidak berkenan dihati. wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh



-- Maidhotul (Kudus)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Janji harus ditunaikan. Janji adalah hutang yang harus dipenuhi. Mereka yang tidak menunaikan janjinya disebut sebagai orang yang memiliki tanda kemunafikan. Rasulullah saw bersabda:

آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu ada tiga, (1) jika berbicara berdusta; (2) jika berjanji maka tidak menepati; dan (3) jika diberi amanah, dia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan Allah memerintahkan kepada kita agar menepati janji. Allah berfirman:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الأيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah (kalian) itu sesudah meneguhkannya, sedangkan kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi kalian (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat.(QS. An Nahl:91)

Itulah ketentuan asal hukum berjanji. Bahwa janji untuk kebaikan itu wajib ditunaikan. Akan tetapi jika janji itu berdampak kepada kemaksiatan dan dosa maka janji itu harus dibatalkan dan diingkari. Seperti seseorang pada masa pacaran berjanji akan setia sehidup semati. Kemudian karena sesuatu hal keduanya pisah. Maka janji itu tidak boleh dilanjutkan, karena jika dilanjutkan bisa berdampak pada timbulnya kemaksiatan.

Janji baik wajib ditunaikan, jika tidak di tunaikan maka berdosa. Untuk menghapus dosa itu dengan istighfar dan taubat. Adapun janji yang disertai sumpah, seperti janji :”aku bersumpah…. Atau demi Allah… atau kalimat serupa. Maka janji yang disertai sumpah, jika dibatalkan harus membayar kafarat atau penebusnya. Yaitu melakukan salah satu dari tiga pilihan kafarat: Memberi makan sepuluh orang miskin, atau memberi pakaian sepuluh orang miskin, atau membebaskan budak. Jika tidak bisa melakukan salah satu dari tiga hal itu maka berpuasa tiga hari. allah berfirman:

فَكَفَّٰرَتُهُۥٓ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَٰكِينَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِيكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِيرُ رَقَبَةٍۖ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٍۚ ذَٰلِكَ كَفَّٰرَةُ أَيۡمَٰنِكُمۡ إِذَا حَلَفۡتُمۡۚ وَٱحۡفَظُوٓاْ أَيۡمَٰنَكُمۡۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَۚ

“ … maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan hamba sahaya. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) adalah berpuasa selama tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (Kepada-Nya).” (QS. al-Maidah: 89)

Demikian yang bisa disampaikan . wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc