Berkata Buruk Kepada Diri Sendiri

Pernikahan & Keluarga, 28 November 2021

Pertanyaan:

Assalamuallaikum wr.wb 

Perkenalkan saya Dwi, saya ingin bertanya apakah hukumnya kita berbicara buruk untuk diri kita sendiri? saya wanita sudah berkeluarga. bbrp hari lalu pagi hari suami saya meminta untuk disiapkan makan tetapi posisinya saya baru saja pulang dari pasar, mungkin karna suami saya lapar jadi emosinya tidak terkontrol. Dia berkata "mending meninggal karna terkena kanker daripda kelaparan terkena maag". setelah dia sadar akan perkataannya, dia lalu beristighfar memohon ampunan allah. tetapi saya masih sangat kepikiran dengan perkataan suami saya tersebut. Apakah yang harus saya lakukan? apakah perkataan tersebut ada penawanya mengingat perkataan adalah doa? naudzubillahmindzalik. teman saya ada yang meninggal karna kanker lalu mungkin penyebabnya salah satunya terlalu sering makan mie instant. jadi ketika lapar suami saya menyuruh saya membuat mie instan tetapi tidak saya perbolehkan karna trauma, itubyag memicu suami saya berkata demikian. mohoj solusinya ustadz.

 

terimakasih atas waktunya

sekian

wassalamuallaikum wr.wb



-- Dwi (Bali)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Seorang muslim harus menjaga omongannya dari omongan yang buruk dari tercela. Karena hal itu bisa benar-benar terjadi seperti yang diomongkan. Sebuah kisah yang diceritakan oleh Ibnu Abbas:

   أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَابِيٍّ يَعُودُهُ، قَالَ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ: «لاَ بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» فَقَالَ لَهُ: «لاَ بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» قَالَ: قُلْتُ: طَهُورٌ؟ كَلَّا، بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُورُ، أَوْ تَثُورُ، عَلَى شَيْخٍ كَبِيرٍ، تُزِيرُهُ القُبُورَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَنَعَمْ إِذًا  

Artinya: Nabi Muhammad mendatangi seorang Badui yang sedang sakit. Setiap mengunjungi orang sakit, Nabi bersabda: ‘Tidak apa-apa, menjadi penghapus dosa. insyaallah.’ Begitu juga perkataan Nabi tersebut, beliau sampaikan kepada orang Badui yang sedang sakit. Reaksi Badui ketika mendapatkan doa, malah berkata: ‘Penghapus dosa? Sekali-kali tidak (tidak mungkin), sakit panas saya yang bergejolak ini memang menimpa orang tua yang sudah lanjut usia yang mengantarkannya ke alam kubur.’ Maka Nabi Muhammad bersabda: Ya sudah kalau begitu. (HR Al-Bukhari: 3616).

Maka keesokan harinya Badui itu  meninggal. Takdir Allah menjemputnya.

Bagaimana jika kita pernah mengucapkan kata-kata buruk kepada diri sendiri? Jika hal itu pernah terjadi maka yang harus dilakukan adalah istighfar dan berdoa dengan sesuatu yang sebaliknya. Mohon kepada Allah swt agar tidak ditimpakan kepada kita seperti yang pernah kita ucapkan. Semua kita kembalikan kepada Allah. Allah maha berkehendak untuk menunaikan atau membatalkan. Semua telah ditulis dan di takdirkan. Kehendak Allah dan pilihan Allah adalah yang terbaik. Allah berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia) ( QS. Al Qashas:68)

Karena itu anda tidak perlu terlalu khawatir dengan apa yang telah diucapkan oleh suami anda akan menimpanya seperti yang dia ucapkan. Serahkan semuanya kepada ketentuan Allah. Anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkan kematian itu. Karena waktunya tidak akan dimajukan atau dimundurkan.

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.(QS. Al A’raf:34)

Yang perlu disiapkan adalah bekal menghadapi kematian itu. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc