Suami Berselingkuh Dan Tidak Ingin Pisah

Pernikahan & Keluarga, 29 November 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh,

Rumah tannga kami sudah berjalan hampir 7 tahun, ditahun ke5 suami ketahuan selingkuh dari HP nya, waktu itu sudah mau berpisah tapi saya masih memikirkan nasib anak saya, saya pikir suami saya bisa berubah.

Namun di awal dan pertengahan tahun suami sempat menemui selingkuhan nya di garut. dan masih berkomunikasi sampai dengan minggu lalu.

disaat hubungan kami mulai membaik,kembali saya di tunjukkan oleh Allah tb2 melihat kembali komunikasi mereka. dan saya memutuskan untuk klwr dari rumah bersama anak saya.

Saya minta untuk pisah namun suami tetap ingin mempertahakan hubungan keluarga tetapi lubuk hati saya tidak bisa menerima.

Mohon untuk saran dan tindakan apa yang harus saya lakukan,

Terimakasih



-- Diana (Tangerang)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Keluarga itu terjadi karena adanya akad nikah. Akad itu artinya ikatan, komitmen dan kesepakatan untuk saling terikat dan saling komitmen satu dengan yang lain. Yang mengikat adalah kasih sayang dan tanggung jawab antara suami dan istri. Karena itu islam melarang pengkhianatan terhadap pernikahan dan segala hal yang merusak ikatan pernikahan, seperti selingkuh, perzinahan, kekerasan dalam rumah tangga dan lain-lain.

Jika suami atau istri melanggar komitmen dan ikatan keluarga maka dia telah merusak ikatan itu dan berusaha mengurai jalinan pernikahan yang telah dibangun dengan ikatan yang kokoh lewat akad nikah.

Suami yang melakukan pelanggaran komitmen pernikahan adalah suami nusyuz. Untuk mengubah suami nusyuz diperlukan perdamaian atau ishlah. Yaitu dengan mengundang dan melibatkan keluarga besar dari suami dan istri. Mereka bermusyawarah dan mendamaikan suami dan istri yang sedang ditimpa masalah itu. Allah berfirman:

وَاِنِ امْرَاَةٌ خَافَتْ مِنْۢ بَعْلِهَا نُشُوْزًا اَوْ اِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ اَنْ يُّصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۗوَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗوَاُحْضِرَتِ الْاَنْفُسُ الشُّحَّۗ وَاِنْ تُحْسِنُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا

Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau bersikap tidak acuh, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu memperbaiki (pergaulan dengan istrimu) dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap acuh tak acuh), maka sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Annisa:128)

Jika setelah upaya damai diusahakan dan ternyata tidak terjadi perubahan lebih baik, maka istri berhak mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Hakim akan memutuskan yang terbaik untuk mereka berdua. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc