Talak

Pernikahan & Keluarga, 1 Januari 2022

Pertanyaan:

Saya perempuan berumur 29 tahun. Saya ingin berkonsultasi tentang talak.

awal saya bertengkar dengan suami waktu itu suami saya mengatakan kata-kata berupa " pergi saja kamu dari hidup saya" setelah pertengkaran itu kami berbaikan.

Setelah beberapa bulan atau tahun saya juga lupa maaf. Kami bertengkar kembali dan suami saya mengatakan " kamu bukan istri ku lagi" karena dia sangat emosi keluarlah kata2 itu tetapi dia mengakui itu tidak sungguh2 di ucapkan. 

Dan baru2 ini kami bertengkar lagi dan saya selalu memintak suami saya untuk mengucapkan talak 3 sekaligus tetapi suami saya tidak mau namun saya paksa terus dan akhir nya dia mengatakan " kamu aku talak 3 mulai sekarang kamu resmi bukan istri saya " karena kami sama2 emosi waktu itu.

Yang ingin saya tanyakan apakah talak saya sudah jatuh??? Apakah kami sudah tidak suami istri lagi??? Tolong bantu saya tolong beri penjelasan nya karena saya tidak ingin berpisah begitu pun suami saya..



-- Windayuliani (Padang)

Jawaban:

a alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Dalam masalah yang anda sampaikan, ada tiga hal yang perlu dibahas.

  1. Talak saat marah.
  2. Lafadz talak
  3. Talak tiga sekaligus.

Pertama: Talak saat marah

Marah itu ada tiga kondisi:

  1. Marah yang menghilangkan kesadaran,sehingga pelaku tidak sadar dengan apa yang dilakukan dan diucapkannya,tidak mampu mengendalikan emosinya. Maka talak seperti ini tidak sah. Seperti suami kalap dan melakukan tindakan yang tidak wajar seperti membanting HP, meninju tembok dan pintu dst. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

 ﻻَ ﻃَﻼَﻕَ ﻭَﻻَ ﻋِﺘَﺎﻕَ ﻓِﻲْ ﺇِﻏْﻼَﻕٍ

Tidak ada Talak dan membebaskan budak dalam keadaan (hati/akal) tertutup” (HR Abu Dawud, Ahmad,Ibnu Majah dan Hakim)

Ibnul Qayyim menjelaskan maksud hadits “tertutup akal” salah satu maknanya adalah ketika marah.

  1. Marah yang pelakunya masih memiliki kemampuan diri penuh untuk mengendalikan emosinya, sehingga menyadari penuh atas apa yang dilakukannya, maka talaknya sah.
  2. Marah yang pelakunya kehilangan sebagian dari kesadarannya, maka dia harus ditanya atau diklarifikasi niat dan maksud dari ucapannya. Jika dia menjawab berniat talak, maka jatuh talak, jika berniat yang lain maka tidak jatuh talak.

Kedua : Lafadz talak

Lafadz atau ucapan cerai atau talak ada dua macam yaitu:

  1. Lafadz sharih atau tegas dan lugas, contohnya: “ kamu saya talak, kamu saya ceraikan “
  2. Lafadz kinayah atau kiasan, kalimat tidak langsung. contohnya :”kamu pulang saja ke rumah orangtuamu”. Kalimat itu bisa dimaknai talak bisa pula tidak.

Para ulama sepakat, talak yang menggunakan lafadz sharih/tegas dan lugas dan diucapkan dalam keadaan sadar dari suami yang sudah balik dan tidak dalam keadaan terpaksa, maka talaknya sah.

Terkait lafadz yang diucapkan suami anda “pergi saja kamu dari hidup saya” bisa dimaknai talak, bisa tidak. Karena lafadz itu lafadz kinayah. Maka dibutuhkan niat dari yang mengucapkannya. Jika suami anda berniat talak, maka jatuh talak. Talak satu. Jika tidak ada niat talak, tapi niat yang lain, maka tidak terjadi talak.

Adapun perkataan suami anda :” kamu bukan istri ku lagi”. Lafadz itu bisa bermakna talak. jika suami anda mengucapkannya dengan kemarahan yang tidak terkendali dan diluar kesadaran diri, maka tidak jatuh talak. tetapi jika dilakukan pada kondisi marah yang masih terkendali dan dalam kesadaran diri yang penuh, maka jatuh talak.

Ketiga: Talak tiga sekaligus.

Talak dilihat dari sifatnya dibagi menjadi dua: talak sunni dan talak bid’i.

Talak sunni adalah talak yang dijatuhkan suami kepada istrinya yang sudah digauli dan masih dalam keadaan suci dari haid dengan satu kali ucapan talak, tidak mentalak tiga sekali waktu. Inilah talak yang sesuai dengan syariat, talak sesuai dengan sunnah Rasulillah saw.

Allah berfirman:

الطَّلَاقُ مَرَّتٰنِ ۖ فَاِمْسَاكٌۢ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ تَسْرِيْحٌۢ بِاِحْسَانٍ ۗ

Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik (QS. Al Baqarah:229)

Talak bid’I adalah talak yang tidak sesuai sunnah atau syariat, seperti seorang suami menjatuhkan talak kepada istrinya yang masih dalam keadaan haid, atau menjatuhkan talak tiga sekali ucap. Seperti perkataan suami kepada istrinya: “engaku aku talak tiga”. Atau perkataan suami : “aku talak engkau, aku talak engkau, aku talak engkau” talaknya yang dilakukan berulang kali dalam satu kesempatan atau dalam beberapa kali dalam kesempatan yang berbeda dan belum pernah dirujuk seperti mentalak berkali-kali dalam satu hari.

Pelaku talak bid’I berdosa dan talaknya jatuh satu, meskipun diucapkan berulang kali.

Hal itu berdasarkan pada sabda rasulullah kepada Umar bin Khatab saat melaporkan anaknya yaitu Abdullah bin Umar yang biasa disebut ibnu Umar yang mentalak istrinya dikala sedang haidh. Talak bid’ah.

أَمَرَنِي أَنْ أُرَا جِعَهَا، ثُمَّ أُمْسِكَهَا حَتَّى تَحِيْضَ حَيْضَةٌ أُخْرَى، ثُمَّ أُمْهِلَهَا حَتَّى تَطْهُرَ، ثُمَّ أَطَلِّقّهَا قَبْلَ أَنْ أَمَسَّهَا، وَأَمَّا أَنْتَ طَلَّقْتَهَا ثَلاَثًا، فَقَـدْ عَصَيْتَ رَبَّـكَ فِيْمَـا أَمَرَكَ مِنْ طَلاَقِ امْرَأَتِكَ .

Perintahkan agar ia kembali kepada (istri)nya, kemudian menahannya hingga masa suci, lalu masa haidh dan suci lagi. Setelah itu bila ia menghendaki ia boleh tetap menahannya menjadi istri atau bila ia menghendaki ia boleh menceraikannya sebelum bersetubuh dengannya. Itu adalah masa “iddah yang diperintahkan Allah untuk menceraikan istri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perintah Rasulullah agar ibnu Umar merujuk istrinya menunjukkan bahwa talak yang dilakukan saat istri haid adalah sah meskipun hal itu terlarang.

Dan menurut kompilasi hukum islam (KHI) pasal 120, talak tiga yang dijatuhkan sekaligus tidak sah.

Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa talak suami anda tergantung dari:

  1. Kondisi marahnya saat talak.
  2. Lafadz yang diucapkan.

Jika tiga kali kasus terjadinya pertengkaran yang di sertai lafadz talak, talaknya  sah, maka anda berdua 'tidak lagi berstatus suami - istri. tetapi jika tidak sah maka anda berdua masih berstatus suami-istri. wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc