Suami Judi

Pernikahan & Keluarga, 2 Januari 2022

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz, saya ibu dari seorang anak usia 3 tahun, dan saat ini saya sedang hamil anak kedua. Saya dan suami sudah menikah 5 tahun, dan selama 5 tahun itu suami selalu berjudi. Setiap kali berjudi, suami selalu berjanji tidak akan mengulangi, bahkan suami sempat sumpah quran. Namun, suami saya tetap mengulangi berjudi lagi. Saat ini utang judi suami mencapai 1 M yg dibayar cicil menggunakan gaji suami sampai 15 tahun ke depan, sehingga suami sudah tidak menafkahi saya lagi. Bahkan suami memiliki utang ke saya ratusan juta karena saya sempat membantu suami bayar utang judinya. Untuk hidup sehari2 saat ini menggunakan gaji saya sebagai PNS. Yg ingin saya tanyakan, haruskah saya bertahan dengan suami saya? Apakah sebaiknya saya gugat cerai suami saya?

Terima kasih. Wassalamualaikum



-- Nirmala (Ambon)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Dibalik prosesi pernikahan ada tanggung jawab yang harus dipikul oleh suami dan istri, dan ada kewajiban dan hak yang harus ditunaikan dan diberikan. Mengenai pembagian tanggung jawab itu Rasulullah menjelaskan dalam sabdanya:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Suami adalah penanggung jawab urusan keluarga, dia wajib memenuhi semua kebutuhan keluarganya, dia wajib memberi nafkah kepada anak dan istrinya. Allah berfirman:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” (QS Al-Baqarah : 233)

Suami wajib melindungi keluarganya dari sengatan api neraka, dengan membimbing keluarganya agar selamat di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. At-Tahrîm:6)

Jika suami tidak menunaikan kewajiban, bahkan sebaliknya melimpahkan kewajiban kepada istrinya akibat berjudi, maka dia telah berbuat dhalim kepada keluarganya.

Berjudi adalah perbuatan dosa besar dan dia adalah tipu muslihat setan. Menjual angan-angan dan mimpi untuk menjadi kaya. Islam sangat melarang perjudian. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Mâidah/5: 90)

jika suami anda tidak menunaikan kewajibannya dan melanggar larangan Allah, maka dengan itu semua anda memiliki hak untuk mengajukan gugatan cerai kepada suami anda. Jika dengan pernikahan ini anda tidak dapat mencapai tujuan pernikahan, yaitu terwujudnya keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, maka perceraian bisa bisa menjadi alternative dan solusi. Sehingga anda tidak terdhalimi oleh suami anda.

Tapi jika anda memilih bersabar dengan kondisi suami anda sekarang ini, maka bagi anda pahala bersabar dan semoga dengan kesabaran anda suami anda bisa berubah sikap. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc