Komunikasi Tidak Berjalan Dua Arah

Pernikahan & Keluarga, 5 Januari 2022

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuuhu

Sejak suami memiliki wanita lain selama 2 tahun dan mereka bersepakat untuk menikah, komunikasi saya dengan dia jadi tidak berjalan dua arah. Saya meminta diskusi mengenai kelanjutan pernikahan kami mengenai konsep kedepannya karena konsep awal sudah berubah. 

Namun suami tidak pernah menanggapi dan hanya diam. Dia tidak mau berpisah dengan saya, namun dia ingin saya ikuti apa yang dia putuskan, ikuti jalan nya dan jangan banyak bertanya atau ikut campur urusan  dia.

Saya sdh bicara baik baik, mengajak diskusi dan saya merasa mentok. Dia tidak mau menerima nasihat dari siapapun. Dia merasa sikap, tindakan dan prinsip dia benar untuk dia. Sekalipun ortunya tdk berani menasehati karena menganggap anaknya  lebih pintar.

Apa yang bisa saya ikhtiarkan lagi. Saya masih ingin mempertahankan RT ini. 

Wassalamu'alaikum



-- Aysha (Bogor)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Komunikasi adalah pintu masuk dalam menyelesaikan masalah. Tidak masalah yang tidak bisa diselesaikan jika dibicarakan dan dimusyawarahkan. Karena itu musyawarah sebagai sarana komunikasi dan tukar pendapat diperintahkan Islam, agar tidak ada masalah  yang terabaikan dan tidak terselesaikan.

Musyawarah adalah prinsip yang harus ditegakkan. Musyawarah bukan hanya dalam urusan masyarakat umum, tapi musyawarah juga harus dalam urusan keluarga.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ )

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS.Ali ‘Imran : 159)

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka” (QS.Asy-Syuura : 38)

Jika pintu komunikasi lewat musyarah ditutup, hal itu seperti membiarkan api dalam sekam, suatu saat akan menimbulkan masalah yang besar. Oleh sebab itu anda harus berupaya agar suami anda bisa diajak berkomunikasi untuk membicarakan tentang alasan dan sebab dia ingin berpoligami.

Memang seorang suami boleh poligami. Allah berfirman:


وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ، فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا 

Artinya, “Bila kalian khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim perempuan, maka nikahilah dari perempuan-perempuan yang kalian sukai, dua, tiga atau empat. Lalu bila kalian khawatir tidak adil (dalam memberi nafkah dan membagi hari di antara mereka), maka nikahilah satu orang perempuan saja atau nikahilah budak perempuan yang kalian miliki. Yang demikian itu lebih dekat pada tidak berbuat aniaya.” (QS. Annisa:3)

Hukum  poligami itu sama dengan hukum menikah untuk pertama kalinya. Poligami hukumnya bisa wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah. Poligami bukan untuk gagah-gagahan. Jika dengan berpoligami menimbulkan madharat bagi diri dan orang lain maka berpoligami haram hukumnya.

Untuk bisa menjalin komunkasi dengan suami yang menutup pintu komunikasi dari istrinya, sang istri bisa meminta tolong kepada orang yang disegani dan dihormati. Orang itu bisa gurunya, ustadznya, temannya, orang tuanya atau yang lainya.

Cara lain yang bisa anda tempuh untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan menyampaikan masalah anda kepada keluarga besar anda dan keluarga besar suami. Mintalah mereka untuk melakukan ishlah atau perdamain lewat musyarah yang melibatkan kedua keluarga besar. Allah berfirman:

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ ۚ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Annisa:128)

Jika segala upaya komunikasi tidak bisa membuahkan hasil, maka ada dua pilihan bagi anda yaitu bersabar atau mengajukan gugatan cerai. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc