Bolehkah Mengajukan Cerai

Pernikahan & Keluarga, 7 Januari 2022

Pertanyaan:

AssalaamuAlaikum

Afwan, saya mau bertanya.

Suami saya awalnya mengaku bahwa dia menyukai perempuan lain.

Setelah saya dapati dia bohong kepada saya.

Awalnya bilang ingin keluar bersama teman2 lelakinya.

Ternyata keluar bersama teman2 perempuannya.

Dimana salah satu dari mereka, ada yg disukainya.

Ternyata hal spt ini sudah berlangsung beberapa minggu, mereka suka pergi beramai - ramai, supaya rasa suka suami saya pada perempuan itu tersamarkan. Tiap keluar selalu menghabiskan 500 - 1 jt rupiah.

Padahal kalau makan bersama kami, anak dan istrinya, makan 200 rb, malah mengeluh kemahalan. Selalu menyuruh kami berhemat.

Akhir kata, dia berjanji akan komitmen pada pernikahan kami. Akan berusaha mengikis rasanya pada perempuan itu. Saya juga sudah ultimatum. Kalau masih meneruskan, silahkan. Tapi tolong ceraikan saya.

Tetapi kenyataannya :

• Tetap saja jarang dirumah, kalaupun di rumah gelisah, tidak hentinya wa kepada wanita itu.

• Kalau anak2 atau saya mau keluar, harus buat janji terlebih dulu, 3 - 4 hari sebelumnya. Kalau tidak dia akan ngomel2.

• Kalaupun akhirnya keluar bersama saya dan anak2, selalu ingin cepat pulang, dan dalam pergi bersama kami, selalu wa si wanita itu. Setelah menurunkan kami di rumah, jika masih memungkinkan (belum jam 10 malam) langsung pergi lagi.

Sebulan berlalu, saya kemudian dapati suami saya ternyata malah mentrasfer uang ke wanita itu, sampai berjuta2.

Setelah saya konfirmasi dia mengaku salah. Berjanji ini yang terakhir. Ternyata sisa uang di rekening malah di pindahkan ke rekening baru. Sehingga saya tidak bisa lagi melihat transaksinya.

2 minggu kemudian, dia malah mengaku ingin menyeriusi wanita itu. Ingin dinikahi. Tapi tidak mau menceraikan saya. Seperti perjanjian sebelumnya.

Saya sungguh sudah tidak sanggup melihat kelakuannya.

Saya ingin berpisah saja dengannya. Karena belum poligami saja dia sudah tidak adil. Apalagi setelah poligami nanti.

Apakah ini dibolehkan ?

Terima kasih

 

 



-- Fulanah (Makassar)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Allah swt menyebut ikatan pernikahan itu sebagai ikatan yang kokoh,mitsaqon gholidho (QS. Annisa 21). Ikatan dan komitmen antara suami dan istri yang harus dipegang teguh. Tidak boleh ada pengkianatan dan pelepasan tanggung jawab.  Suami adalah pakaiannya istri dan istri adalah pakaiannya suami.

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.

Fungsi pakaian adalah menjadi penutup aurat, menjadi perhiasan dan menjadi pelindung. Jika suami dan istri tidak lagi saling menutupi kekurangan pasangannya, tidak saling menjaga kehormatannya dan tidak saling melindungi dari bahaya yang mengancamnya. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, maka tujuan berkeluarga yaitu menggapai keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, tidak akan tercapai.

Jika demikian adanya, maka anda sebagai istri diberikan dua pilihan: bersabar atau berpisah. Jika anda memilih bersabar, maka bagi anda pahala yang besar. Dan jika anda memilih berpisah, maka anda harus ridla dengan segala konsekwensinya.

Hukum wanita meminta cerai kepada suaminya karena sudah tidak sanggup menjalankan hukum Allah dalam rumah tangga adalah mubah. Diantara hukum Allah yang harus ditegakkan oleh seorang istri kepada suaminya adalah menuruti kehendaknya dan taat kepadanya, melayani kebutuhannya, dan beberapa tugas lainnya. Jika karena sesuatu-seperti pengkhianatan suami kepada istrinya-seorang istri tidak bisa melaksanakan kewajiban itu, dia boleh mengajukan gugatan cerai. Hal itu lebih baik daripada menimbulkan kemaksiatan.

Kisah istri Tsabit bin Qois bisa menjadi acuan untuk mengajukan gugatan cerai, dimana dia mengajukan gugatan cerai kepada suaminya bukan karena akhlak suaminya yang tidak baik dan kesalehannya yang dia permasalahkan, tapi penyebabnya adalah, dia tidak mampu dan tidak siap melayani suaminya yang menyebabkan tidak terlaksanya hukum Allah, sehingga dikhawatirkan menyebabkan kufur kepada suami, hidup bersama suami, tapi tidak bisa melaksanakan hak-hak suami. Hal itu diadukan kepada Rasulullah saw,seperti hadits berikut:

جَاءَتْ امرَأَةُ ثَابِت بْنِ قَيْس بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّه مَاأَنقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِيْنٍ وَلاَ خُلُقِ إِلاَّ أَنِّي أَخَافُ الْكُفْرَ فَقَالَ رَسُواللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرُدِّيْنَ عَلَيْهِ حَدِيقََتَهُ فَقَالَتْ نَعَمْ فَرَدَّتْ عَلَيْهِ وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا “

Isteri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata ; “Wahai Rasulullah, aku tidak membenci Tsabit dalam agama dan akhlaknya. Aku hanya takut kufur”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya?”. Ia menjawab, “Ya”, maka ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan Tsabit pun menceraikannya” (HR Al-Bukhari)

Istri Tsabit bin Qois diperbolehkan meminta cerai karena dia tidak sanggup melaksanakan kewajibannya kepada suami, meskipun suaminya baik agama dan akhlaknya. Tentu seorang istri yang tidak sanggup melaksanakan kewajiban kepada suaminya karena dia dikhianati oleh suaminya juga diperbolehkan meminta cerai.

Wanita yang meminta cerai kepada suaminya karena alasan yang dibenarkan oleh syariat tidak termasuk wanita yang terhalang dari mencium bau surga. Yang diancam tidak mencium bau surga adalah wanita yang meminta cerai tanpa alasan syar’i, hanya memperturutkan hawa nafsu. Rasulullah saw bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ.

Wanita mana saja yang minta cerai dari suaminya tanpa adanya alasan, maka ia tidak akan mencium bau wanginya Surga (HR. Ibnu majah, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Demikian yang bisa disampaikan wallahu a’lam bishwab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc