Bagaimana Cara Menghilangkan Kalimat Kotor Dalam Hati?

Lain-lain, 26 April 2022

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb 

Jadi begini dl sekitar 3 tahun yg lalu sy mendengarkan lagu "Ibu, Hadad Alwi" saya terharu melihat cuplikan lagunya. Sehingga sy berakat dalam hati seperti ini "saya harus bisa jadi anak berbakti, jangan sampai sy ngomongg (saya sempat berfikir sebentar) tbtb terucap kalimat makian dalam hati kepada mama saya, dan aneh nya kalimat itu berulang terucap dalam hati. Menanggapi hal ini sy masih santai, sy alihkan pada kalimat lain, hingga suatu ketika sy marah sama orang tua sy hanya karena hal ga penting dan tbtb ngatain mama sy dalam hati. 

Sy akhirnya bercerita ke orang tua sy karena jujur sy ga nyaman akan hal itu, tapi orang tua sy tentu marah (sy mengerti bagaimana perasaan mereka). Alhamdulillah setelah sekian lama sy biarkan kalimat itu,  akhirnya tidak pernah ngucap kalimat itu lg.

Namun, ketika malam tanggal 28.3.2022 sy habis bersih bersih kamar sy rebahan dikasur dan sy bilang gini "udh lama ga tidur di kasur ini gara gara (tbtb sy memaki mama sy)" karena panik sy lgsg baca doa dan hati ini sedikit gelisah. Besok paginya ketika sy bangun tidur tbtb terucap lg. 

Bahkan sampai hari ini (26.4.2022) sy terkadang terucap kalimat kotor, bahkan lebih kotor dan kurang ajar itu, kadang ada dalam hati seperti niatan sengaja dan akhirnya terucap di dalam hati. Tapi sy berusaha untuk mohon ampun kepada Allah SWT. Dan tetap berbakti kepada orang tua meskipun hati sy ngomong gitu sy yakin itu adalah  bisikan setan.

Pertanyaannya 

1. Apakah sy termasuk anak durhaka?

2. Apakah terselip niatan sengaja akan dihisab diakthirat?

3. Bagaimana cara sy agar tak terpikir lagi dan tidak mengucapkan nya maeskipun dalam hati, sy harus bagaimana? Sy paling benci kali udh ngucap kalimat kotor itu

 



-- Nabila (Pontianak)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Sikap dan perkataan seseorang itu bermula dari hatinya. Hati yang bersih dan baik akan mendorong sikap, perilaku dan perkataan yang baik. Karena itulah kita diminta untuk selalu berdoa dan memohon agar diberikan keteguhan hati dan jalan yang lurus.

Hati itu bergerak tanpa kita dapat mengendalikannya. Berbeda dengan kaki dan tangan yang bisa dikendalikan dengan mudah. Mengendalikan hati dan menahannya agar tidak membisikkan sesuatu yang tidak kita kehendaki sangat sulit. Karena itu sekedar bisikan jahat hati tidak bisa dinilai kejahatan sampai bisikan hati itu dikatakan atau dilakukan. Karena itu dapat kita jawab pertanyaan yang anda sampaikan dengan tanggapan berikut ini:

  1. Anda dinilai durhaka atau tidak tergantung sikap dan perkataan anda, bukan karena bisikan apa yang ada dalam hati.
  2. Lintasan niat dalam hati akan dinilai, jika yang diniatkan itu berupa kebaikan. Jika yang diniatkan keburukan maka tidak akan dinilai keburukan, sampai apa yang diniatkan itu dilakukan. Rasulullah saw bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ  عَنْهُمَـا ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَـا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ، قَالَ : «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْـحَسَنَاتِ وَالسَّيِّـئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِـهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهُ اللّـهُ عَزَّوَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّـئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ؛ كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِهَـا فَعَمِلَهَا ، كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً ». رَوَاهُ الْـبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ فِـيْ صَحِيْحَيْهِمَـا بِهَذِهِ الْـحُرُوْفِ  

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan  barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” [HR. al-Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahiih mereka]

  1. Agar hati bersih dari bisikan yang tidak baik dan bisikan jahat. Maka sibukkan hati dengan yang baik, seperti berdzikir dan berfikir hal-hal positif. Hati yang berbisik keburukan karena hati tidak diisi dan disibukkan dengan kebaikan. Hati tidak bisa mengumpulkan kebaikan dan keburukan dalam waktu bersamaan. Jika tidak diisi kebaikan maka akan terisi keburukan, demikian sebaliknya.

 

Demikian yang bisa disampaikan semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc