Mahar Yang Belum Saya Terima Setelah Menikah.

Pernikahan & Keluarga, 27 April 2022

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarrakatu.

Saya ingin bertanya ustadz, saya baru menikah 5bulan lamanya. Saat menikah saya diberi mahar berupa uang yang jumlah nya memang tdk banyak, dan mahar tersebut jg di bentuk seperti di bingkai ala2 modern menggunakan uang palsu tentunya. Dgn uang kertas dan uang pecahan 50rupiah. Yang saya ingin tanyakan sampai saat ini saya tidak menerima mahar berupa uang asli saya.. sudah sempat beberapa kali saya meminta kepada suami mahar saya, suami sering bilang tidak usah. Sama saja dengan yg di bingkai ( mungkin karena nominal nya yg tdk besar ) jadi suami suka menyepelekan. Jadi hukumnya bagaimana ustadz? 



-- Hamba Allah (Bekasi )

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Mahar adalah hak istri yang wajib diberikan oleh suami sebagai syarat sahnya pernikahan. Suami anda sudah mengerti bahwa mahar harus diberikan kepada istri, hal itu terbukti dari mahar yang dia bawa meskipun masih dalam bentuk uang-uangan yang dia bingkai. Kesalahan yang dia lakukan adalah belum membayar uang mahar yang sudah dia tetapkan. Dia masih berhutang mahar. Dia wajib membayarnya. Karena mahar wajib dia berikan. Hukum mahar  adalah wajib. Allah berfirman:

وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۗ فَاِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـًٔا مَّرِيْۤـًٔا

Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati (QS. Annisa:4)

Karena mahar hukum adalah wajib maka harus segera dibayar meskipun nilainya kecil. Justru karena kecil itulah seharusnya tidak meremehkannya. Haram hukumnya tidak membayar mahar. Karena itu sampaikan kembali kewajiban dia untuk segera membayarnya. Tidak boleh mengambil mahar tanpa kerelaan istri. Allah berfirman dalam surat Annisa:20-21 :

وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآَتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (20) وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا (21)

20-Dan kalau kalian ingin mengganti istri dengan istri yang lain sedangkan kalian telah memberikan harta yang banyak kepada mereka (istri yang kalian tinggalkan), maka janganlah kalian mengambil kembali sedikit pun darinya. Apakah kalian akan mengambilnya dengan kebohongan (yang kalian buat) dan dosa yang nyata? 21-Dan bagaimana kalian akan mengambilnya kembali, padahal kalian telah bergaul satu sama lain dan mereka telah mengambil janji yang kuat dari kalian?

Jika anda tidak mau mengambil mahar anda, mengikhlaskannya dan tidak anda ambil, hal itu tidak mengapa. Diperbolehkan bagi istri menghibahkan mahar yang menjadi haknya kepada suaminya. Jika istri menhibahkan haknya, maka tidak ada lagi kewajiban membayar mahar tersebut.

Dalam masalah ini anda berhak meminta mahar dari suami. Dan anda juga boleh mengikhlaskan untuk suami. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc