Suami Meminta Uang Istri Untuk Keinginan Pribadi

Pernikahan & Keluarga, 27 April 2022

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum, saya ingin bertanya dan mohon jawabannya. Saya menikah 1,5 tahun yang lalu. Ini pernikahan kedua saya. Kami kenal melalui seseorang dan dapat dibilang ta'aruf dan hanya berselang 2-3 bulan dari perkenalan. Dan 1-2 bulan setelah menikah saya membantu suami untuk melunasi cicilan motornya. Dia sampaikan di awal bahwa status pinjam dan akan di kembalikan ke saya saat motor terjual. Tp akhirnya motor terjual uang di pakai untuk beli mobil dan saya harus nambah lg. Dan saat punya mobil, uang gajinya dia habis untuk mengurus mobilnya, saya tidak d nafkahi, tp tidak jarang dia malah minta transfer untuk bensin mobilnya. Alhamdulillah saya bekerja tp gaji saya lebih kecil dari suami, dan saya sudah punya anak 1 dari pernikahan sebelumnya yang juga tidak mendapat nafkah untuk anak saya dari mantan suami. 

Dan sampai sekarang masih sering terjadi suami saya minta untuk beli mobil. Dia gobta ganti mobil dan bilang kalau untungnya untuk saya, tp tidak pernab saya menerima uang itu. Dan yang paling  bikin aaya sakit adalah jika dia butuh uang untuk beli mobil dan saya tidak ada uang sejumlah yang dia inginkan, dia akan marah dan beberapa kali mengatakan bahwa saya tidak dapat membahagiakan suami. Jika saya kasih saran yang berbeda dari mau nya dia, dia jg akan marah.

Dan yang jadi pertanyaan penting adalah  bagaimana jika suami terus marah saat saya tidak memberinya uang karena tabungan uang saya sudah habis dia pakai dan dia tidak merasa sudah menggunakan banyak uang saya, apakah saya boleh menolak permintaan suami meski dia marah2? Apakah saya dosa jika tidak menuruti keinginan suami? Karena saya harus menabung untuk kebutuhan kemuarga dan masa depan anak saya

Terimakasih

Wassalamu'alaikum wr.wb



-- Najah (Klaten)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Allah telah membagi peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Laki-laki menjadi penanggung jawab urusan keluarga dan perempuan menjadi penanggung jawab urusan dalam rumah suaminya. Suami wajib menafkahi keluarganya dan istri mengelola nafkah yang diberikan suaminya. Rasulullah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Suami menjadi kepala keluarga dan istri menjadi pelaksana urusan dalam rumah suaminya. Hal itu dikarenakan suami telah menafkahi keluarganya. Allah berfirman:

 الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Maha-besar.” (An-Nisaa’/4: 34)

Harta suami untuk nafkah keluarganya. Harta istri untuk dirinya. Harta suami dinafkahkan untuk keluarganya sebagai kewajiban, dan harta istri jika dia rela memberikannya untuk membantu keluarganya itu menjadi sedekah bagi keluarganya.

Karena harta istri milik penuh dirinya, maka suami tidak berhak memaksa meminta harta istrinya. Dan jika istri menolaknya dan karenanya suami marah, maka marahnya marah yang tidak benar, itu kedhaliman. Memaksa istri untuk memberikan hartanya adalah kemaksiatan yang tidak sepatutnya dilakukan.

Tidak berdosa seorang istri yang menolak keinginan suami yang tidak sesuai syariat. Kewajiban taat kepada suami itu hanya pada perkara ketaatan kepada Allah swt. Rasulullah bersabda:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR Bukhari dan Muslim).

Demikian yang bisa disampaiakan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc