Nafkah Wajib Dari Suami

Pernikahan & Keluarga, 28 April 2022

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum, saya mohon pencerahan. Apabila suami istri memiliki perusahaan bersama dimana suami sebagai pemegang saham dan istri sebagai Direktur yang mendapat gaji bulanan dari perusahaan tersebut, apakah Gaji yg didapat oleh istri tsb dapat dianggap sebagai nafkah wajib dari suami? 

Apakah dibenarkan kalau suami tidak memberikan nafkah kepada istri dari penghasilan suami sendiri?

Saya bekerja untuk perusahaan kami dan saya mendapat gaji bulanan.  Tetapi suami yg bekerja di perusahan swasta lain tidak pernah memberikan uang apapun lagi sejak saya bekerja di perusahaan keluarga. Uang belanja sehari2 rumahtangga diberikan langsung oleh suami kepada PRT kami setiap hari. 

Mohon bantuan pencerahan tentang nafkah wajib suami kepada istri. 

Terimakasih, wassalamu'alaikum warahmatullah wabararakatuh



-- Adeline (Jakarta Selatan)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Untuk menjawab masalah diatas akan kami sampaikan lewat poin-poin berikut ini:

  1. Istri yang bekerja di perusahaan keluarga.

Suami dan istri yang bekerja di perusahaan keluarga, memiliki dua hubugan yang tidak terpisahkan satu-sama lain. Hubungan sebagai suami - istri, dan hubungan bisnis yang terikat oleh akad atau kontrak kerja.

Sebagai suami dan istri keduanya diikat oleh hak dan kewajiban selaku suami dan istri. Suami menjadi penanggung jawab urusan keluarga dan istri menjadi penanggung jawab urusan rumah suaminya. Suami berkewajiban memberi nafkah, istri berkewajiban mengatur nafkah yang diberikan dan seterusnya. Rasulullah saw bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Suami wajib menafkahi istri dan keluarganya. Baik istrinya dalam keadaan kaya dan bekerja maupun tidak berpunya dan tidak bekerja. Nafkah yang wajib diberikan kepada istri dan keluarganya meliputi kebutuhan primer, sekunder dan tersier sesuai dengan kemampuan suami. Jika suami hanya mampu menafkahi kebutuhan primernya, maka wajib baginya menafkahi kebutuhan primernya saja, jika bisa lebih, maka dia wajib memberi lebih. Allah berfirman:

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang telah Allah karuniakan kepadanya. Allah tidaklah memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang telah Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan” (Ath Thalaq : 7)

Allah berfirman:

اَسْكِنُوْهُنَّ مِنْ حَیْثُ سَكَنْتُمْ مِّنْ وُّجْدِكُمْ…

Artinya “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu (suami) bertempat tinggal menurut kemampuan kamu,…” (QS. Ath Thalaaq:

Allah berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Lelaki adalah pemimpin bagi wanita, disebabkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian manusia (lelaki) di atas sebagian yang lain (wanita) dan disebabkan mereka memberi nafkan dengan hartanya ….” (Q.S. an-Nisa’: 34)

Allah berifrman:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik”.(Al Baqarah : 233).

Adapun hubungan suami dan istri pada bisnis dan usaha. Maka hubungan itu tidak boleh dicampur adukkan dengan hubungan keduanya sebagai suami dan istri. Hubungan keduanya seperti hubungan orang lain yang tidak punya hubungan keluarga. Hak dan kewajiban keduanya sama seperti hak dan kewajiban orang lain yang bekerja di sebuah perusahaan. Pemilik perusahaan wajib membayar gaji karyawan. Karyawan berhak atas upah dari hasil kerjanya.

Seseorang yang mempekerjakan orang lain wajib membayar gaji atas pekerjaannya. Rasulullah bersabda:

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah)

Suami wajib memberi nafkah kepada istrinya karena statusnya sebagai suami. Dan istri berhak mendapat nafkah dari suami karena statusnya sebagai istri. Jika suami dan istri memiliki status ganda maka dia juga memiliki hak dan kewajiban ganda sesuai dengan statusnya itu.

  1. Kewajiban suami memberi nafkah.

Suami wajib memberi nafkah istrinya dari harta pribadinya. Jika dia tidak memberi nafkah dari harta pribadinya, tapi dari harta pihak lain, maka suami itu belum memberi nafkah, pihak lainlah yang memberi nafkah. Suami belum gugur kewajibannya dalam memberi nafkah.

  1. Suami memberi uang belanja harian ke PRT.

Suami boleh saja memberikan langsung uang belanja harian kepada PRT, tidak lewat istrinya. Dalam hal ini, suami termasuk telah menafkahi istrinya dan keluarganya pada sisi nafkah kebutuhan makan harian. .

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa suami tetap berkewajiban memberi nafkah dari uang pribadinya, walaupun dia bekerja di perusahaan keluarga. Dan diperbolehkan untuk suami memberikan uang belanja kepada PRT walaupun tidak lewat istrinya. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc