Jual Beli

Fiqih Muamalah, 1 Mei 2022

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Apa hukum jual beli benih tanaman via Online?

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh



-- Okta Kurniawan (Semarang )

Jawaban:

Waalaikumussalam wr wb.

Jual beli online itu dibolehkan dengan ketentuan barang yang dibeli halal dan jelas spesifikasinya, ada hak pembeli untuk membatalkan atau melanjutkan (menerima) jika barang diterima tidak sesuai pesanan, serta sesuai dengan skema jual beli.

Kesimpulan ini berdasarkan telaah terhadap standar fatwa DSN MUI terkait dengan jual beli dan ijarah, serta kaidah-kaidah fikih muamalah terkait.

Di antara rambu-rambu fikih terkait belanja online adalah sebagai berikut.

1). Barang yang dibeli harus memenuhi kriteria: 

a. Barang/jasa yang halal. Oleh karena itu, tidak diperkenankan berbelanja barang yang haram baik karena fisiknya seperti minuman memabukkan maupun nonfisiknya, seperti mainan yang merusak moral anak-anak. 

b. Barang/jasa yang diprioritaskan untuk dimiliki. Tidak membeli yang tidak dibutuhkan atau tersier agar tidak mengakibatkan pemubaziran yang dilarang. Sesuai firman Allah Swt; "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan..." (QS Al-Isra' : 27). 

c. Barang yang dibeli harus jelas kriteria dan spesifikasinya seperti gambar, harga dan ukurannya seperti proses yang terjadi di lapak online karena tidak berwujud atau tidak terlihat saat transaksi pembelian agar terhindar dari ketidakjelasan atau gharar. 

d. Pembeli diberikan hak (khiyar) untuk membatalkan jual beli atau menerima dengan kerelaan apabila barang yang diterima tidak sesuai dengan pesanan.

2). Transaksi jual beli antara penjual dan pembeli, baik jual beli tunai maupun tidak tunai (barang diserahkan secara tunai, sedangkan harga diterima oleh penjual secara tidak tunai) itu dibolehkan. Hal ini berdasarkan hasil keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islami (Divisi Fikih Organisasi Kerja sama Islam/OKI) No. 51 (2/6) 1990 yang membolehkan jual beli tidak tunai dan Fatwa DSN MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah.

3). Diprioritaskan berbelanja pada tempat berbelanja/lapak yang bisa memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat dan tidak melanggar peraturan perundang-undangan.

4). Berbelanja diniatkan beribadah kepada Allah Swt. Sehingga, setiap berbelanja itu untuk keperluan ibadah kepada Allah Swt, seperti membeli mainan untuk anak-anak maka dipilih mainan yang kira-kira mendidik anak. Bukan sekedar bermain, apalagi merusak pendidikan anak-anak.

Jual beli melalui online seperti melalui lapak dan sejenisnya yang biasa dilakukan dalam jual beli online itu sah dengan ketentuan di atas yang merujuk pada pendapat ulama ahli fiqih yang membolehkan transaksi antara penjual dan pembeli yang berbeda tempat.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA