Nasab Anak

Lain-lain, 17 Mei 2022

Pertanyaan:

Assalamualaikum,

Ustadz, saya memiliki teman.  Dia hamil akibat diperkosa saat sedang tidur.  Saat ini usia kandungannya sekitar 6 minggu.  Laki-laki yang memerkosanya ingin bertanggung jawab.  Apakah mereka bisa menikah dan pernikahannya sah? Apakah anak yang dikandungnya masih bisa bernasabkan ayahnya?

Jazakallah khairan katsiron.



-- Milan (Palembang)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Seorang laki-laki yang menzinahi seorang perempuan, dia boleh menikahi perempuan itu walaupun dalam keadaan hamil dan pernikahannya sah. Hukum pernikahan bagi wanita hamil sah karena yang menikahi adalah lelaki yang menghamilinya. Rasulullah saw bersabda:Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda: “Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal”. (HR Tabarany dan Daruquthuny).

Jika yang menikahi adalah laki-laki lain maka tidak sah, karena itu harus melakukan nikah ulang setelah anak lahir. Rasulullah saw bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يسقي ماءه زرع غيره                                      

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah dia menuangkan air maninya pada tanaman orang lain.” (HR. Ahmad 16542)

Pernikahan wanita hamil dengan laki-laki yang menghamilinya juga sah dihadapan hukum Negara dan tidak perlu mengadakan pernikahan ulang. Hal itu tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam yang menjadi acuan pernikahan di Indonesia:

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dengan instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991 Tanggal 10 Juni 1991, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 154 Tahun 1991 telah disebutkan hal-hal berikut:

Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya.

Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih duhulu kelahiran anaknya.

Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.

Karena pernikahan  sah secara agama dan Negara, maka anak yang dilahirkan nanti menjadi anak sah suami dan istri itu dan nasabnya dinisbahkan kepada ayahnya itu. Dan jika anak itu perempuan dan dikemudian hari menikah,maka yang menjadi walinya adalah ayahnya itu. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc