Was Was Sepertinya

Lain-lain, 21 Mei 2022

Pertanyaan:

Pak ustad saya mau nanya pak jadi kan saya pernah berpikiran jelek jadi kan saya lagi diem tetapi hati saya berkata,"ini yesus" entah disengaja ataupun tidak disengaja (sepertinya disengaja atau entahlah)  Lalu saat saya ngaca sambil memegang hidung hati saya berbicara,"ini Allah" lalu ada kata yg menjelekan Allah tapi bukan ini doang tapi akhirnya malah terucap di hati entah saya lupa disengaja atau tidak sengaja dan itu membuat saya stress jadi gimana pak ustad saya bingung sampe stress

tolong jawab pak ustad



-- Marcell (Jogjakarta)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Setiap orang memiliki lintasan hati. Beragam hal melintas dalam hati dan pikiran yang tidak bisa dikendalikan. Manusia tidak bisa mengendalikan dan mengatur apa yang boleh dan tidak boleh melintasa di hati dan pikirannya. Manusia hanya bisa mengusir atau menindak lanjuti pikiran itu dalam bentuk sikap atau kata-kata. Sikap dan kata-kata inilah yang akan dinilai sebagai kebaikan atau keburukan. Sebagai contoh: Muncul lintasan dalam pikiran dan hati:”ini yesus “. “ini Allah”. Jika lintasan pikiran itu ditindak lanjuti dengan kata-kata secara lisan (bukan kata-kata dalam hati)“ inilah aku yesus” misalnya. Maka perkataan itu  adalah keburukan. Jika lintasan itu ditolak dengan kata-kata lisan; ”bukan, aku bukan yesus!” maka perkataan itu suatu kebaikan.

Karena itu selama anda bisa mengendalikan sikap atau kata-kata lisan atas munculnya lintasan pikiran itu, anda tidak perlu khawatir yang berlebihan yang membuat anda stress berat. Selama lintasa pikiran itu hanya di dalam hati saja, anda akan baik-baik saja. Allah tidak membebani kita untuk menutup hati dan pikiran dari munculnya lintasan pikiran,karena itu di luar kemampuan manusia. Allah berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ࣖ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah , dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (Qs. al Baqarah: 286)

Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc