Menikahi Janda Yang Tidak Mempunyai Nasab

Lain-lain, 23 Mei 2022

Pertanyaan:

Menikah dengan janda yang tidak mempunyai nasab (karena janda tersebut ternyata anak adopsi) dan sudah tidak diketahui lagi orangrtua kandungnya selama 23 tahun. Apakah pernikahannya boleh dilaksanakan dengan menggunakan wali hakim yang ditentukan sendiri oleh mempelai wanita? Dan apakah tetap sah jika mempelai wanita tersebut tidak meminta ijin lebih dulu kepada orang tua asuhnya? 

Terima kasih



-- Dwi Praptono (Kediri)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Orang yang berhak menjadi wali nikah adalah ayah kandung, jika tidak ada, maka yang menjadi walinya adalah saudara laki-lakinya, pamannya (saudara laki-laki ayah), kakek (ayahnya ayah). Jika mereka tidak ada, maka walinya adalah wali hakim. Wali dianggap tidak ada bisa disebabkan karena ketidak jelasan wali, tidak jelas karena diketahui tempat tinggalnya maupun ketidak jelasan hidup dan matinya. Anak adopsi yang tidak diketahui walinya, yang menjadi walinya adalah hakim

Wali hakim yang menikahkan adalah petugas resmi yang ditunjuk pemerintah, seperti kepala KUA. Dia menikahkan atas nama lembaga, bukan atas nama pribadi. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW:

 فَإِنَّ السُّلْطَانَ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

Artinya, “Sungguh penguasa adalah wali bagi perempuan yang tidak memiliki wali,” (HR. Ahmad).

Ketentuan tersebut juga sesuai dengan Pasal 1 huruf b Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menyebutkan: “Wali hakim ialah wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan kewenangan untuk bertindak sebagai wali nikah.”

Jika ada seorang janda mau menikah. Dia tidak memerlukan ijin orangtuanya. Karena janda lebih berhak atas dirinya. Hal ini berbeda dengan perawan. Rasulullah bersabda:

الثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا وَالْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَا أَبُوهَا فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Muslim)

Meskipun janda tidak membutuhkan ijin. Sebagai bentuk adab dankesopanan. Sebaiknya dia tetap meminta ijin kepada orangtuanya. Karena dialah selama ini yang mengasuh dan membesarkannya. Wallahu a’lam bishowab. (as).



-- Amin Syukroni, Lc