Talaq

Pernikahan & Keluarga, 12 Juni 2022

Pertanyaan:

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ijin bertanya ustad,, sy seorang janda dan menikah siri dg pria bersuami, alasan suami menikah lg krn istri sll sakit2an dan sdh hampir setahun cuci darah tiap 2x seminggu, istri mengijinkan secara lisan kata beliau dg alasan istri tdk bs memenuhi kebutuhannya setiap saat, singkat kata kami menikah dengan syarat ketika istri sembuh kita harus jujur dan menikah secara resmi. 6 bulan menikah istri meninggal dan blm sempat mengakui secara jujur.selama itu jg suami tdk memberi kebthan sandang pangan dan papan krn perekonomian lbh pd pengobatan istri.setelah 100 hr istri meninggal sy minta nikah resmi tetapi suami menolak ternyata ada WIL.pertanyaan sy apakah sy hrs bertahan atau bercerai ustad ? mengingat suami sdh mengeluarkan kata talaq dan ingin menikah dg WIL nya. syuqron jwbannya ustad



-- Sari (Tarakan)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Pernikahan sirri atau pernikahan dibawah tangan berpotensi merugikan pihak wanita. Ketika terjadi perselisihan, wanita selalu berada di pihak yang kalah. Karena tidak ada bukti tertulis yang menerangkan status pernikahannya.

Nasi telah menjadi bubur. Semuanya telah terjadi. Tidak ada kata kembali. Yang bisa anda lakukan adalah memperbaiki rencana masa depan anda setelah anda ditalak oleh suami sirri anda. Dia menolak melanjutkan hubungan pernikahan dengan anda, dan lebih memilih menikahi wanita lain.

Saran kami,sebaiknya anda terima saja takdir anda dan lupakan mantan suami anda itu. Hadapilah kondisi ini dengan sabar. Semoga kesabaran anda dan kerelaan anda menerima takdir itu menjadi kebaikan bagi anda dimasa yang akan datang. Dan tidak mungkin memaksa dia menikahi anda, karena dia telah memilih wanita lain.

Yakinlah bahwa semua ini terjadi atas kehendak Allah. Tidak ada di alam semesta ini terjadi kebetulan. Pasti semua terjadi kearena kehendak Allah. Semua manusia dan semua jin tidak bisa memberi manfaat atau madharat. Allah-lah  yang menetapkannya. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِي العَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ: خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً فَقَالَ لِي: (( يَا غُلاَمُ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ )) رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَقَالَ: (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ ))، وَفِي رِوَايَةِ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ: (( اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَم يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ العُسْرِ يُسْراً )).

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’” (HR. Tirmidzi).

Yakinlah bahwa ketentuan Allah adalah lebih baik daripada keinginan anda. yakinlah aka nada kebaikan yang akan anda dapatkan dikemudian hari atau ada bahaya yang Allah hindarkan anda darinya. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc