Silaturahim Keluarga

Pernikahan & Keluarga, 14 Juni 2022

Pertanyaan:

Rumah orang tua selama 30 tahun setiap lebaran selalu di jadikan tempat berkumpul berhari-hari oleh sodara2 dari pihak ibu karena tinggal bareng dengan nenek. setelah nenek meninggal kami (orang tua dan anak2nya) merasa tidak nyaman dan tidak sanggup jika harus menerima mereka (paman bibi beserta anak2 nya yg sudah dewasa, ditambah ipar2 dan lain2 yg bukan mahram kami). apakah kami berhak untuk menolak mereka menginap di rumah kami? 

alhamdulilah keluarga kami sudah paham tentang pergaulan dengan non mahram,, sehingga kami ingin menghindarinya untuk lebih melindungi keluarga kami.

lebaran terakhir kemarin,, secara tidak sengaja dan tidak terencana,,kami terlontar menolak mereka., timbul sedikit salah paham sehingga menjadi agak rumit. tapi pada akhirnya kami menjelaskan alasan2 kepada mereka secara jelas dan baik. tapi mereka berpikir kalau keluarga kami memutus silaturahim dengan mereka. padahal sudah di jelaskan, kalau kami hanya melarang mereka untuk menginap dsini saja.

meskipun begitu, tapi alhamdulillah orang tua saya terutama ayah,, beliau jadi lebih nyaman di rumah ketika hari raya dan bisa menyambut adek2 beliau di rumahnya tanpa terganggu. dan ayah saya juga tidak sering marah2 lagi.

mohon pencerahannya ustad

terimakasih

 



-- Justina (Garut)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Sudah menjadi tradisi bahwa setiap lebaran, keluarga kumpul di rumah orang tua. Tradisi itu baik dan harusnya dilestarikan. Karena hal itu dapat memupuk tali persaudaraan dalam keluarga. Dan biasanya ketika orangtua meninggal maka tempat berkumpul berada di rumah saudara tertua atau di tempat yang paling nyaman yang disepakati. Dalam rangka untuk meneruskan talis silaturahmi dalam keluarga itu.

Acara kumpul keluarga itu biasanya  ditentukan waktunya, tempatnya dan durasi waktunya. Ada yang diadakan sehari selesai, dan ada yang dilakukan sampai menginap. Hal itu tergantung kesepakatan bersama. Pertemuan dibuat resmi, sehingga acarapun juga dibuat resmi.

Tetapi jika pertemuan itu bukan pertemuan resmi, tapi pertemuan terjadi karena saling bertamu ke rumah orang tua. Maka yang menjadi tolok ukurnya adalah adab bertamu. Kewajiban tuan rumah menghormati tamu dan tidak mengusirnya. Siapa tamu itu? Tamu adalah orang yang kita terima masuk ke rumah kita. Ketika seseorang diterima sebagai tamu, maka dia berhak mendapatkan penghormatan dari tuan rumah. Jika tidak siap menghormati tamu,jangan jadikan orang yang datang ke rumah sebagai tamu.

Dalam bertamu ada beberapa adab yang harus diperhatikan oleh yang bertamu dan tuan rumah. Antara lain:

  1. Tuan rumah wajib menghormati tamu. Menghormati tamu merupakan konsekwensi iman. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ : (( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”. (HR al-Bukhâri dan Muslim)

  1. Tuan rumah berhak menerima orang yang datang ke rumahnya sebagai tamu atau menolaknya.

Allah berfirman:

فَاِنْ لَّمْ تَجِدُوْا فِيْهَآ اَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوْهَا حَتّٰى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَاِنْ قِيْلَ لَكُمُ ارْجِعُوْا فَارْجِعُوْا هُوَ اَزْكٰى لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ

Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Annur 28)

Rasulullah saw bersabda:

عن أبى موسى الاشعريّ رضي الله عمه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلم: الاستئذانُ ثلاثٌ، فان أذن لك و الاّ فارجع

Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!” (HR. Bukhari)

  1. Orang yang mau bertamu harus meminta ijin. Dan jika diterima sebagai tamu, maka hendaknya dia tahu diri dengan kondisi tuan rumah dan menyesuaikan dengan kondisi tuan rumah.

يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ اْلحَقِّ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya! Namun, jika kamu diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu, Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu menerangkan yang benar.” (Qs. Al Azab: 53)

  1. Tuan rumah dan tamu hendaknya memperhatikan norma sosial yang berlaku di suatu masyarakat. Norma sosial atau kebiasaan yang berjalan juga tidak boleh diabaikan. Hal itu terkait kepatutan dan kepantasan. Bisa jadi orang menganggap bahwa rumah nenek adalah rumah bersama atau rumah induk. Sehingga siapa saja dari keluarga itu merasa berhak datang dan menginap di rumah tersebut. Apalagi jika rumah itu masih menjadi milik bersama karena belum dibagi waris.

Itulah Beberapa hal yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc