Suami Dan Mertua Ingin Saya Menambah Anak, Tapi Saya Masih Enggan

Pernikahan & Keluarga, 27 Juni 2022

Pertanyaan:

Bismillah...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Saya seorang istri dan ibu dari 2 anak.  Anak-anak kami berumur 6 dan 2 tahun.  Sering sekali jika bertemu ibu mertua, beliau selalu menyuruh saya untuk menambah anak lagi, supaya bisa dapat anak perempuan (anak saya keduanya lelaki).  Suami juga sepertinya ingin menambah anak, meskipun tidak pernah blak-blakan bicara demikian.  Sesungguhnya, saya bukannya anti menambah anak, tapi saya takut sekali dengan kondisi psikis saya jika menambah anak, yang justru bisa berakibat buruk bagi anak-anak saya nantinya.  Jujur, saya merasa besar sekali tekanan bathin yang harus saya hadapi selama menikah.  Antara lain:

1. Background keluarga besar suami yang begitu mengagungkan ibu rumah tangga yang bisa full mengurus suami, rumah, dan anak2 sendiri, tanpa ART.  Sedangkan kondisi saya adalah ibu bekerja, dan memiliki seorang ART.  Walaupun, saat berada di rumah (waktu libur kantor maupun WFH) waktu saya full saya usahakan untuk mengurus anak, rumah, dan suami (walaupun ada ART, saya tetap cuci piring, sikat kamar mandi, mandi dan suap anak,dll).

2. Sejak menikah dan bahkan sebelum memiliki ART pun, semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh saya sendiri.  Suami  selalu berkata bahwa pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban istri.  Ibu mertua pun pernah bilang kepada saya bahwa anak2 laki2 ibu mertua saya tidak diperbolehkan "memegang" pekerjaan rumah tangga, karena itu semua adalah tugas istri, bukan suami. Jadi kami tidak ada pembagian tugas dalam urusan rumah tangga.  Hal ini sering membuat saya kelelahan fisik dan psikis.

3. Walaupun saya bekerja, tapi saya tidak "merdeka" terhadap gaji saya.  Semua gaji saya dipegang suami, dan saya hanya ditransfer 1/5 bagian dari gaji saya.  Hanya itu uang pegangan yang saya miliki, yang notabene juga habis digunakan untuk pernak pernik keperluan anak sekolah, bensin motor saya, dll.  Nafkah berupa sebagian besar/ sebagian kecil uang dari suami tidak ada, hanya 1/5 bagian gaji saya saja yang saya pegang.  Hal ini sudah sering kami bicarakan (karena saya merasa keberatan dg kondisi seperti ini), tapi tidak pernah ada titik temu.  Suami hanya akan mengijinkan saya bekerja jika gaji saya dipegang suami.  Saya sebetulnya belum bisa ikhlas.

4.  Jika sedang kumpul keluarga dg keluarga besar suami, seringkali ada ucapan/ perbuatan yang menyakitkan hati.  Di kondisi ini, saya seringkali merasa ditempatkan pada posisi seorang istri dan ibu yang "tidak becus dan tidak telaten" seperti keluarga suami saya, hanya karena saya memiliki ART.  Kebetulan di keluarga besar suami, hanya kami lah yang mempunyai ART.  Padahal, kami meutuskan menggunakan ART karena kondisi, bukan karena saya ingin bersantai2 semata.

5. Pengasuhan anak seringkali di "lemparkan" kepada istri.  Suami tau beres. jika anak baik, mertua dan keluarga memuji suami.  Jika anak buruk, yang disalahkan adalah ibunya.

6.  Saya satu kantor dengan suami.  Setiap kali saya ke kantor dengan suami (jadwal WFO nya sama), saya diwajibkan makan dengan suami di dalam mobil, saya tidak diperbolehkan makan sendiri di ruang kerja saya.  semua gerak gerik saya dipantau seperti tahanan, hp semua dicek, bahkan di rumah pun saya diawasi cctv terus.  Jika beliau menemukan dari cctv ada kegiatan saya yang menurutnya tidak pas (contoh: langsung membuka paket yang datang tanpa menunggu suami; atau membelikan jajan anak dari penjual keliling (saya hanya boleh beli online, tidak boleh beli langsung), dll.) pasti akan memicu pertengkaran kami.

 

kurang lebih demikian kondisi saya, saya merasa sangat stres, dan tidak yakin sanggup menambah anak lagi, walaupun mertua terus mendesak.  Stress saya membuat saya sering sakit dan drop. Mungkin karena pikiran yang tidak stabil.  Suami tidak secara blak-blakan mengatakan ingin menambah momongan, tapi beliau mengatakan kepada saya "haram hukumnya menghalangi suami untuk memiliki anak. itu adalah hak suami untuk mendapat keturunan".  

Apakah benar suami berhak memaksa istrinya untuk memiliki anak lagi walaupun istri tidak siap mental dan tertekan hingga sering sakit?

Saya sempat terpikir untuk KB tanpa memberi tahu suami, tapi takut dosa.  Apa yang sebaiknya saya lakukan?  Saya rasanya sudah menemui jalan buntu.  Mohon solusinya dari Ustadz dan Ustadzah yang budiman  Jazakumullahu khairan...

 

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh



-- Ayu (Jakarta)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu

Latar belakang suami dan isteri sangat berpengaruh terhadap perjalanan bahtera keluarga. Latar belakang masing-masing akan mendasari sikapnya sehari-hari.  Anda tidak menganggap bahwa seorang isteri itu harus di rumah saja dan berkutat dengan pekerjaan rumah. Sementara suami anda dan keluarganya beranggapan bahwa isteri itu tempatnya di rumah untuk mengurusi urusan rumah tangga. Waktu dan tenaga untuk urusan keluarga. Dengan demikian tidak dibutuhkan ART dan sebagainya. Semua urusan rumah selesai ditangani isteri.Sikap suami anda juga menunjukkan bahwa anda tidak boleh bekerja. Lebih baik tidak bekerja. Apalagi tempat kerja anda dan suami di kantor yang sama.

Melihat kondisi seperti itu, saran kami, anda lebih baik keluar dari pelerjaan anda dan focus melakukan pekerjaan di rumah. Dengan anda bekerja di luar rumah anda menjalani pekerjaan yang berat yang bikin anda stress. Dua tugas anda kerjakan sendiri. Pekerjaan suami yaitu mencari nafkah anda lakukan dan pekerjaan utama anda yaitu menyelesaikan pekerjaan rumah, juga anda yang harus menyelesaikannya.

Anda bekerja tapi tidak menikmati hasil jerih payah anda, padahal itu adalah hak anda. Karena suami anda memberi ijin anda bekerja dengan syarat gaji anda dia yang kelola, maka anda tidak punya hak apapun atsa gaji anda. Dia diuntungkan dengan cucuran keringat anda. Dia merasa sah saja tidak menfakahi dari gaji gaijnya sendiri. Gajinya utuh karena biaya keluarga telah tercukupi dari gaji anda.

Jika kita kembalikan kepada Islam, maka Islam mengatur tanggung jawab suami-isteri. Suami penanggung jawab urusan keluarga dan isteri penanggung jawab urusan dalam rumah. Suami seperti kepala sekolah. Isteri seperti wali kelas. Suami keluar rumah. Isteri di dalam rumah. Rasulullah saw bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan pembagian tugas suami dan isteri seperti diatas maka akan terjadi keseimbangan dalam keluarga. Tidak semua keluar rumah mencari nafkah. Tapi ada yang sibuk keluar rumah mencari nafkah dan ada yang sibuk mengurus rumah. Suami beribadah dengan keluar rumah mencari nafkah. Isteri beribadah dengan tinggal di dalam rumah.

Bisa jadi tekanan yang anda rasakan dari suami dan keluarganya hanyalah cara mereka untuk mengembalikan anda sebagai ibu rumah tangga sebagaimana yang mereka inginkan. Adapun soal keinginan ingin menambah momongan bukanlah sesuatu yang pokok yang mereka inginkan. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc