Was Was Menghina Orang

Aqidah, 27 Juni 2022

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr.wb Ustadz

Dalam benak saya ada pikiran seperti menghina seorang penceramah terus saya kan geleng2 kepala seolah saya bilang " Tidak " kemudian ditengah2 itu ada bisikan kalau saya geleng kepala maka saya menghinanya sesat, kemudian ( entah sadar atau tidak ) saya tiba-tiba jadi geleng-geleng kepala karena sebelumnya saya lagi menggoyangkan kepala, jadi seolah saya menghina nya tapi mungkin karena awalnya saya gak bisa menahan bisikan ini makanya saya ga tau kenapa malah melakukannya ( antara sadar melakukan atau tidak ) atau mungkin karena kepala saya yang lagi pusing makanya saya menggerakan kepala karena pusing. Tapi tidak saya ucapkan di lisan sama sekali

Jadi apakah saya telah menghina sesat kepada orang ini ustadz? Padahal saya awalnya gak mikir apa2 dan saya juga benci sama pikiran ini

Wassalamualaikum wr.wb 



-- Fahri (Tangerang Selatan)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Salah satu senjata iblis untuk merusak manusia adalah penyakit was-was. Penyakit ini dia sematkan di hati hamba Allah untuk menimbulkan keraguan. Dengan metode ini, setan bisa dengan mudah menggiring seorang muslim untuk senantiasa dalam kegelisahan bahkan akhirnya menjauh dari agamanya

Setelah kita yakin bahwa penyakit was-was adalah godaan iblis, untuk selanjutnya kita perlu berusaha mencari solusi agar bisa terbebas dari masalah ini.

Diantara obat yang paling mujarab untuk menghilangkan was-was adalah sikap tidak peduli. Tidak mengambil pusing setiap keraguan yang muncul.

Ahmad al-Haitami ketika ditanya tentang penyakit was-was, adakah obatnya? Beliau mengatakan,

له دواء نافع وهو الإعراض عنها جملة كافية ، وإن كان في النفس من التردد ما كان – فإنه متى لم يلتفت لذلك لم يثبت بل يذهب بعد زمن قليل كما جرب ذلك الموفقون , وأما من أصغى إليها وعمل بقضيتها فإنها لا تزال تزداد به حتى تُخرجه إلى حيز المجانين بل وأقبح منهم , كما شاهدناه في كثيرين ممن ابتلوا بها وأصغوا إليها وإلى شيطانها

Ada obat yang paling mujarab untuk penyakit ini, yaitu tidak peduli secara keseluruhan. Meskipun dalam dirinya muncul keraguan yang hebat. Karena jika dia tidak perhatikan keraguan ini, maka keraguannya tidak akan menetap dan akan pergi dengan sendiri dalam waktu yang tidak lama. Sebagaimana cara ini pernah dilakukan oleh mereka yang mendapat taufiq untuk lepas dari was-was. Sebaliknya, orang yang memperhatikan keraguan yang muncul dan menuruti bisikan keraguannya, maka dorongan was-was itu akan terus bertambah, sampai menyebabkan dirinya seperti orang gila atau lebih parah dari orang gila. Sebagaimana yang pernah kami lihat pada banyak orang yang mengalami cobaan keraguan ini, sementara dia memperhatikan bisikan was-wasnya dan ajakan setannya (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubro, 1:149).

Cara kedua ialah dengan mengmbil sikap kebalikan, Misalnya, seorang yang wasa was dengan menghina Allah dan Rasul-NYa atau seorang muslim, maka segera puji Allah dan Rasulnya, secara tolak bisikan tersebut.

Adapun lintasan fikiran2 buruk, selama masih dalam bisikan hati dan belum diucapkan, maka in syaa Allah tidak menimbulkan hukum apa2, namun kalau sudah terjadi apalagi sering terjadi, maka seyogyanya disesalinya, berjanji untuk tidak mengulang kembali, banyak beristughfar kepada Allah dan memohon kepada Allah hidayah dan bimbinganNYa

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA